Thursday, June 14, 2012

Fungsi Penataran P4 di Masyarakat

Menggali Kepribadian Bangsa Yang Hilang


Kecerobohan pemerintah melalui MPR mencabut TAP MPR II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetya Pacakarsa) dan menggantikannya dengan mengeluarkan TAP MPR XVIII/MPR/1998 sangat disesalkan di masa kini. Bisa dipastikan hal itu dilakukan oleh anggota MPR yang tidak tahu sejarah Pancasila, atau mungkin mereka yang suka tertidur dan bermalas-malasan ketika mengikuti penataran P4 ketika masih duduk di bangku sekolah atau kuliah sehingga materi yang disampaikan penatar tidak mereka pahami.

Kaca sejarah merefleksikan bagaimana Bung Karno sendiri bahkan langsung memberikan kursus-kurusus Pancasila bagi para pejabat pemerintah dan mahasiswa kala itu, kemudian Pak Harto mengajarkan hal serupa melalui Penataran P4. Kendati terdapat perbedaan cara, mereka adalah orang yang betul-betul menjaga Pancasila.

Kegiatan Penataran P4, baik pola 25, 45 maupun 100 jam yang dilaksanakan di era itu bertujuan memasyarakatkan Pancasila secara baik, dan mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sila demi sila dikupas dan diuraikan dalam butir-butir yang kemudian dikembangkan lagi menjadi 45 butir.

Kalau saja sesal tidak selalu terlambat datangnya, penghapusan Penataran P4 pasti tidak akan dilakukan saat itu. Terbukti reformasi telah menjadikan pikiran bangsa Indonesia lebih liberalis dan salah jalan. Muncul tirani mayoritas, anarkisme, hedonisme, kapitalisme dan pelunturan kepribadian luhur bangsa Indonesia.

Keanehan terjadi ketika pemerintah bersama DPR membuat UU No. 27/2009 dengan malu-malu ingin memperbaiki kecerobohan itu, memasyaraktkan empat pilar utama negara yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Bukankah materi yang ditekankan pada Penataran P4 bahkan jauh lebih luas dari empat pilar tersebut?

Kenyataan yang harus diakui pemangku kekuasaan saat ini : Materi Penataran P4 bukan hanya Pancasila, terdapat juga materi lain seperti UUD 1945, GBHN, Wawasan Nusantara, dan materi lain yang berkaitan dengan kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme. Kalau Penataran P4 terksesan seperti sebuah indoktrinasi, itu karena materi Penataran P4 dibuat seragam di seluruh Indonesia agar Pancasila ditafsirkan sama di seluruh wilayah Indonesia.

Kembali menjadi bangsa Indonesia yang beradab dan berbudaya, menjunjung tinggi adat ketimuran seperti sopan santun, gotong royong, toleransi, bermusyawarah untuk mufakat, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui Penataran P4 apa salahnya? Semoga kita tidak terlambat menentukan sikap untuk membenahi hancurnya sendi-sendi kebangsaan akibat ekses negatif reformasi yang justru dilanggar oleh para pencetusnya sendiri, Amin Ya Robbal Alamiin....

BACA JUGA:
Selebriti Hanya Pemanis Politik Indonesia
Mencari Pemimpin Tangguh Pasca Reformasi
Grasi Corby Berpotensi Langgar Sumpah Presiden
Haruskah Papua Lepas Dari NKRI?
Feodalisme Gaya Baru dan Demokrasi Indonesia
Dekadensi Kepatuhan Sosial
Estafet Pancasila Antar Presiden

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.