Wednesday, June 13, 2012

Selebriti Hanya Pemanis Politik Indonesia

Antara Memilih dan Tidak Memilih Adalah Hak


Tipikal masyarakat Indonesia yang kolektivisme berbeda jauh dengan corak individualisme yang berkembang di negara-negara barat. Model kolektivisme suatu masyarakat seperti di Indonesia sangat menekankan pada kultur kebersamaan.

Dalam situasi dan kondisi masyarakat yang demikian, simpati dan empati sangat mudah sekali muncul di tengah mereka ketika ada sosok yang dianggap lebih dari masyarakat kebanyakan. Seperti sosok selebritis misalnya, yang umumnya lebih menonjol  dari orang kebanyakan bila ditinjau dari aspek penampilan diri sehingga lebih mudah mendapat simpati dari masyarakat.

Kehadiran kaum selebriti di tengah-tengah partai sangat berpengaruh untuk mendongkrak suara. Maka tidak aneh bila partai-partai berlomba menggaet kaum selebriti tanpa mempertimbangkan aspek kualitas yang bersangkutan. Kaum selebriti benar-benar hanya sebagai pemanis politik belaka.

Kaum selebriti dianggap memiliki daya tarik dalam politik Indonesia sehingga mereka kerap dimunculkan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada). Bagaimanapun sebagai warga negara, kaum selebriti juga memiliki hak-hak politik yang sama seperti warga negara Indonesia lainnya. Mereka berhak maju sebagai calon bupati, walikota, gubernur dan bahkan presiden sekalipun.

Pada akhirnya, kebijakan ada pada publik selaku pemilih yang juga berhak untuk mementukan pilihan. Memilih atau tidak memilih mereka sama sekali. Jadi kitalah sesungguhnya yang paling menentukan, bukan kaum selebritis itu.

BACA JUGA:
Mencari Pemimpin Tangguh Pasca Reformasi
Mengenal Bela Diri Shaolin Wing Chun
Grasi Corby Berpotensi Langgar Sumpah Presiden
Haruskah Papua Lepas Dari NKRI?
Feodalisme Gaya Baru dan Demokrasi Indonesia
Dekadensi Kepatuhan Sosial
Estafet Pancasila Antar Presiden

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.