Tuesday, July 31, 2012

Monopoli Kekuasaan Kartel Kedelai

Resah Gelisah Bangsa Pemakan Tempe dan Tahu



Kedelai mahal, tahu dan tempe langka, kemudian punah. Aku mungkin akan mendongengkan cerita tahu dan tempe pada anak-anakku kelak. (@primabodo, 12.05 PM -  26 Jul). 

Itulah kegundahan Gatot Priambodo yang di tulis di Twitter Indonesia, Kamis 26 Juli 2012. Gatot cemas kalau suatu saat kedua makanan rakyat itu punah. Padahal pemogokan oleh pengrajin tempe dan tahu itu direncanakan hanya berlangsung 3 hari saja dari tanggal 25 - 27 Juli 2012.

Pemogokan yang digagas Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia itu sebenarnya reaksi atas kenaikan harga kedelai yang terlalu tinggi. Kenaikan harga kedelai belakangan ini sangat membebani biaya produksi dalam pengadaan bahan baku.

Kisruh melonjaknya harga kedelai hampir tejadi setiap tahun. Sayangnya belum ada upaya pemerintah untuk membenahi kartel kedelai, atau memang kartel itu tak tersentuh? 

Memang keberadaan kartel kedelai itu tidak jelas. Namun, dikutip dari VIVAnews, impor kedelai dilakukan oleh empat perusahaan, masing-masing PT SB Tbk, CI, PT GCU, dan PT TI.

Keberadaan mafia kedelai sangat sulit dikesampingkan apalagi diberantas, karena kebijakan pemerintah hanya digulirkan dalam jangka pendek atau sebatas meredam gejolak. Seperti kebijakan pembebasan bea masuk kedelai dan mempersilakan koperasi mengimpor langsung kedelai. 

Praktik mafia kedelai secara umum sudah berjalan sejak tahun 1960-an, diwariskan dari generasi ke generasi sampai saat ini. Praktik ilegal tersebut bukan hanya diketahui pemerintah Indonesia tapi juga orang-orang yang berada di luar Indonesia. Buktinya Jonathan Agranoff, ahli tempe asal Inggris, mengetahui praktik ini.  

"Selama ini harga dikontrol oleh sekelompok kecil perusahaan swasta yang menjadi pemasok kedelai," kata Jonathan Agranoff dalam sebuah diskusi di Jakarta tanggal 18 Juli 2012 (PR, 30 Juli 2012).

Menteri Pertanian Suswono terang-terangan menuding importir kedelai sebagai biang keladi di balik tingginya harga kedelai di dalam negeri. Menurut Suswono, ulah importir kedelai yang mengambil keuntungan terlalu besar membuat harga kedelai di dalam negeri saat ini tetap tinggi. Padahal harga pasaran kedelai dunia kini sudah turun.

BACA JUGA:
Gagap Etiket Menghambat Karir
Dasar Hukum UKG 2012
Cara Merawat Mesin Motor Injeksi
Mengapa Sahur Penting Saat Puasa?
Penyebab Ketimpangan Ekonomi
Beda Sariawan dan Kanker Mulut
Kebocoran Tata Kelola Keuangan Negara

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.