Monday, July 9, 2012

Pengusaha Indonesia Dipalak Preman

Ketika KKN Hanya Sebatas NATO
(Not Action Talk Only)



Kepastian hukum yang masih dipertanyakan dan sepertinya jauh dari keberpihakkan terhadap kaum pengusaha membuat dunia usaha di Indonesia sulit bergerak. Aparat birokrasi, terutama di daerah adalah yang paling menghambat investasi dan kegiatan dunia usaha. Etos kerja birokrasi yang diwarnai budaya Pungutuan Liar (pungli) dimana-mana jelas tidak bisa dipungkiri keberadaannya. 

Jargon pemerintah, Katakan Tidak Pada Korupsi, Katakan Tidak Pada Kolusi, Katakan Tidak Pada Nepotisme gaungnya hanya sesaat ketika diteriakkan dari atas mimbar politik. Prakteknya di lapangan, nihil!

Sofjan Wanandi yang aslinya bernama Liem Bian Koen mengemukakan, "Kita (pengusaha) sudah berjuang mati-matian membantu pemerintah dalam membuat lapangan kerja dan membayar pajak, tetapi masih saja perlakuan tidak mengenakkan. Di jalan pengusaha dipalakin preman, di kantor pemerintah juga. Mulai barang keluar pabrik, hingga keluar pelabuhan, pengusaha selalu dipalakin." (Pikiran Rakyat, Kamis 1 Desember 2011).

Sofjan Wanandi adalah aktifis sejati yang dikenal kritiknya lantang dan selalu pedas kepada pemerintah. Tahun 1966 sebagai mahasiswa turut dalam pergerakan yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan Soekarno (Orde Lama) yang kemudian digantikan Soeharto (Orde Baru). Kemudian tahun 1998 juga berperan aktif memutar roda reformasi yang menyebabkan pemerintahan Orde Baru diturunkan.

Memasuki Orde Reformasi, Sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Sofjan Wanandi melontarkan kritik pedas kepada pemerintahan SBY yang dipandang lebih mengedepankan polpularitas daripada harus menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Menurutnya, pemerintah sekarang jangan hanya membuat wacana, karena yang dibutuhkan rakyat adalah aksi nyata.

"Ketimbang subsidi terus, lebih baik uang subsidinya yang mencapai Rp 200 trilyun diberikan langsung kepada rakyat dalam bentuk membuka lapangan kerja, seperti membangun jalan, jembatan, gedung sekolah, dan memperbaiki irigasi. Juga dalam bentul BLT (bantuan langsung tunai)," kata pria kelahiran Sawahlunto, Sumatra Barat, 3 Maret 1941 itu. 

BACA JUGA :

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.