Wednesday, July 18, 2012

Belajar Menata Indonesia Dari Negara Rwanda

Kini Saatnya Berbuat Bukan Lagi Saat Berbual



Kalau Rwanda berani mendeklarasikan diri sebagai Singapuranya Afrika, tentu Indonesia yang paling dekat dengan Singapura semestinya bisa lebih dari itu. Kita tidak bisa menutup mata kalau banyak pengusaha kaya Indonesia yang memilih Singapura sebagai surga investasi ketimbang memilih memajukan negerinya sendiri, atau banyaknya artis-artis papan atas kita dan anak-anak pejabat yang juga memilih Singapura sebagai surga belanja.

Pernyataan Paul Kagame, bahwa Rwanda  kini dikatakan sebagai Singapuranya Afrika tentu bukanlah omong kosong belaka. Delapan belas tahun setelah tragedi perang sipil dan Genosida, Rwanda bangkit menatap masa depan mengejar pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Afrika Selatan yang berkembang pesat. Pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi dan perkembangan pariwisata begitu di seluruh  Rwanda.

Paul Kagame menyatakan, seorang pemimpin atau presiden yang terpenting bukan popularitas tetapi harus dinilai dari yang telah diperbuat dan diberikan untuk negeri yang dicintai. Kagame sejak disumpah menjadi presiden sejak 24 Maret 2000 melakukan transformasi besar-besaran. 

Hal pertama yang dilakukan Paul Kagame adalah menghapus ingatan publik tentang masa lalu Rwanda yang kelam yaitu Genosida. Lebih jauh dari itu, Kagame melakukan reformasi birokrasi dan perang melawan penyakit yang membuat negara kolaps, yaitu korupsi para pejabat. Kemudian Kagame juga melakukan transformasi mendasar dengan memperbaiki pelayanan-pelayanan asasi masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan dan perbaikan ekonomi. 

Dalam bidang politik, Rwanda menanamkan prinsip-prinsip demokrasi untuk menghindari  perebutan kekuasaan, junta militer dan penyimpangan kekuasaan yang depostik. Freed Zakaria, narasumber Presiden Rwanda dalam The Future of Freedom (2005) mengatakan, guna demokrasi salah satunya dapat menghindarkan negara dari kekuatan-kekuatan tiranik dan fanatik yang mencoba menguasainya dengan cara-cara inkonstitusional.

Indonesia dengan sumber daya alam yang melimpah ruah mendukung sumber daya manusia yang terdidik bisakah sejajar dengan Singapura atau paling sedikitnya Rwanda? Atau malah kita hanya akan sibuk mengurai benang kusut korupsi yang tidak ditemukan ujung pangkalnya? 

Sejak reformasi 1998 atau 14 tahun sejak aksi heroik mahasiswa dan seluruh elit politik pendukungnya, negeri besar Indonesia masih juga tertatih-tatih. Arah kebijakan pemerintah masih belum jelas, baik dari sektor industri, pariwisata, ekonomi, sosial, politik, nyaris belum membuahkan apapun dan sepertinya cenderung berjalan di tempat.

Indonesia memang telah belajar dari Singapura, bagaimana negeri itu melakukan penetrasi pembangunan yang terkonsentrasi. Penetrasi pembangunan Singapura yang pertama dilakukan ialah menjadikan negeri itu sebagai negeri jasa, lalu meningkat ke perdagangan, pariwisata dan lain-lainnya. Namun, seperti Kagame bilang, itu saja tidak cukup, karena yang terpenting, adanya kemauan (willingness dari pemimpinnya untuk turun ke lapangan, bekerja keras, melipat baju, untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan pemimpin yang pandai melakukan retorika tetapi kosong makna serta tindakan.   

Referensi : Rwanda, Singapuranya Afrika - Ismatullah Nu'ad - PR, 14 Juli 2012

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.