Thursday, August 16, 2012

Mudahnya Masyarakat Tertipu Investasi

Waspadai Keuntungan Dalam Jumlah Tidak Wajar



Keuntungan yang menggiurkan, mudah didapat serta menjanjikan merupakan iming-iming modus penipuan berkedok investasi. Ciri yang mencolok dari investasi penipuan jenis ini biasanya memberikan keuntungan dalam jumlah yang tidak wajar seperti keuntungan 100 persen atau lebih dari modal yang ditanamkan.

Tidak mengherankan bila kasus penipuan berkedok investasi selalu terulang dari tahun ke tahun. Pengurus atau pemilik invesatsi melarikan diri karena di demo nasabahnya dan tidak dapat mengembalikan investasi sesuai tempo dan keuntungan yang pernah dijanjikan. Sebegitu mudahkah bangsa kita tertipu?

Penipuan dengan dalih investasi rupanya semakin canggih modusnya dan bahkan memanfaatkan juga jejaring sosial seperti facebook untuk menjaring nasabahnya. Seperti  Al-Amanah yang berdiri sejak Agustus 2011 dan diperkirakan memiliki 13 ribu investor di seluruh Indonesia dan sudah mengumpulkan dana nasabahnya hingga triliunan rupiah.

Salah satu korban penipuan investasi Al-Amanah  berinisial KA mengemukakan bahwa pimpinan perusahaan ivestasi itu adalah M. Soleh Suaidi. Praktik penipuan perusahaan itu dengan menjanjikan keuntungan 200 persen per bulan dari dana nasabah yang diinvestasikan. 

"Mereka menawarkan melalui Facebook dan situs resmi mereka dengan tawaran keuntungan 200 persen. Ini yang bikin kami mau ikut," kata KA, (VIVAnews, Rabu, 8 Agustus 2012)

Al-Amanah selain menawarkan paket reguler juga menawarkan investasi khusus untuk mendapatkan rumah, naik haji, mobil, hingga keliling dunia hanya dengan menyetorkan uang Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Nasabah melakukan pembayaran melalui  transfer ke rekening konsorsium masing-masing. 

"Konsorsium ini berperan layaknya up-line dalam sistem jaringan multi level marketing (MLM). Keyakinan investor semakin menguat karena Al-Amanah sering mengadakan pertemuan antar investor di Bandung dan Denpasar yang juga dihadiri Suaidi," kata KA.

Para korban percaya dengan iming-iming tersebut, meski  mereka tidak pernah tahu kemana uang milik mereka akan diputarkan. Sementara, Al-Amanah tidak menjual produk dalam bisnis mereka.

Karena pembayaran yang mandek, sejumlah korban akhirnya mendatangi kantor Al-Amanah di Bandung. Namun, kantor itu sudah tidak ada. Dan bisa diduga ujung-ujungnya konsorsium perusahaan itu mengaku tidak bisa lagi membayar uang investasi nasabah. Korban investasi Al-Amanah ini tersebar di berbagai kota di Indonesia. Namun, paling banyak ada di Bandung dan Jakarta. 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.