Wednesday, August 29, 2012

Managemen Nyeri pada Penderita Kanker

Optimalisasi Managemen Nyeri



Keluhan yang sering dijumpai pada pasien kanker, selain keluhan yang berhubungan dengan kankernya sendiri ialah 'nyeri'. "Tingkat keparahan dari nyeri tergantung pada progresifitas penyakitnya," kata dr. Ami Ashariati, SpD-KHOM dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSU DR. Soetomo, Surabaya. 

Berdasarkan data, terdapat 60 - 90 persen penderita kanker mengeluhkan adanya nyeri. Keluhan ini terjadi pada semua jenis kanker dan berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Nyeri kanker dikaitkan dengan beberapa kondisi seperti infeksi, inflamasi, fraktur tulang karena adanya metastasis, termasuk masalah psikologis dan emosional pasien. 

Penatalaksanaan nyeri pasien kanker harus berdasar pada patofisiologiknya. Hal ini yang kemudian mencetuskan munculnya bermacam jenis obat untuk mengatasi nyeri pada pasien kanker.

Menurut dr Ami, managemen nyeri yang baik masih dangat minim diberikan oleh praktisi medis di berbagai layanan kesehatan yang ada. Hal ini karena disebabkan kurangnya informasi terbaru mengenai managemen nyeri kanker atau kurangnya fasilitas kesehatan yang baik untuk melakukan managemen yang baik pada pasien kanker.

Dengan lemahnya managemen nyeri pada penderita kanker, mengakibatkan terjadinya katastropik efek yang akan merugikan pasien dan keluarga pasien. Menurut dr. Ami, mengelola nyeri kanker secara optimal merupakan prioritas utama. Terdapat 3 unsur penting dalam managemen nyeri kanker yaitu:

1. Melakukan penilaian nyeri secara tepat dan tetap
2. Pemberian opioid yang tepat
3. Melakukan intergrasi dengan terapi nyeri lain

Penatalaksanaan nyeri kanker dimulai dengan penilaian jenis nyeri, tingkatan derajat nyeri, hal-hal yang dapat memperberat rasa nyeri atau mengurangi nyeri. Termasuk kondisi umum pasien, untuk dapat menerima pengobatan yang diberikan. Semua ini disiapkan dengan baik, yang dikenal dengan penilaian nyeri.

Step ladder WHO yang merupakan pedoman untuk penatalaksanaan nyeri kanker, merekomendasikan bahwa pada kasus nyeri kanker ringan, cukup dengan pemberian parasetamol, AINS (Anti-Inflamasi Non Steroid); kalau perlu ditambahkan ajuvan. Penambahan ajuvan dapat diberikan pada semua tingkatan nyeri. Untuk nyeri sedang dapat diberikan opioids ringan, seperti kodein atau tramadol. Untuk nyeri kanker berat, bisa diberikan opioids berat seperti morphine.

Penanggulangan nyeri yang sempurna, merupakan sesuatu yang penting dalam pengobatan kanker. WHO membolehkan kombinasi analgetik opiate dan non opiate pada penderita kanker, dengan tingkat nyeri menengah hingga berat. Opiate merupakan analgetik sentral, yang menghambat transduksi saraf di medulla spinalis. Sedangkan analgetik non opiate, dalam hal ini analgetik anti-inflamasi non steroid (AINS), merupakan analgetik perifer yang bekerja dengan menghambat aktivitas cyclooxignase, dalam pembentukan prostaglandin sehingga sistem noriseptor perifer tidak teraktivasi.

Dari data yang ada diketahui, kanker umumnya menyerang penderita usia lanjut. Di usia ini, lansia rentan mengalami nyeri yang disebabkan oleh berbagai kondisi lain di luar kanker, seperti rematik dan lain-lain.

Sumber :  (Ethical Digest No 103 Thn X,  edisi September 2012).

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.