Monday, August 20, 2012

Papua Tanah Baru Perantauan

Warga Asli Akhirnya Menjadi Minoritas


Kedatangan para perantau di Papua yang kaya akan sumber daya alam dan daya tarik luar biasa seiring dengan menguatnya otonomi daerah terus mengalir. Kedatangan para perantau itu memberi andil besar dalam kehidupan ekonomi setempat.

Kehadiran kaum imigran di perkotaan menghidupkan transaksi perdagangan dengan munculnya berbagai sektor usaha. Kemudian di pelosok sektor pertanian yang semula dikelola secara tradisional berangsur berubah berkat adanya program transmigrasi. Kaum transmigran menghidupkan intensifikasi pertanian yang relatif jarang dilakukan penduduk asli.

Kesuksesan para pendatang akhirnya membuat Papua semakin diincar sebagai tanah perantauan baru. Semakin lama beberapa aktivitas wilayah didominasi  pendatang yang akhirnya penduduk asli pun  kalah bersaing. 

Tidak semua daerah menjadi konsentrasi pendatang. Daerah yang mengalami peningkatan paling banyak berada di Kabupaten Sorong, Mimika, dan  Kota Jaya Pura. Selain itu pendatang juga terlihat dengan cepat  menyebar di Kabupaten Manokwari, ibu kota Provinsi Papua Barat. 

Konsentrasi pendatang di daerah tersebut di dorong oleh daya tarik ekonomi mulai dari industri pengolahan minyak, pertambangan emas, pertanian, konstruksi, transfortasi dan jasa. 

Geliat ekonomi tersebut turut mendorong pertumbuhan perekonomian regional menjadi lebih baik. Tercatat produk regional (PDRB) tiap daerah konsentrasi pendatang rata-rata lebih dari Rp 3 trilyun, bahkan untuk Kabupaten Mimika rata-rata lebih dari Rp 40 trilyun per tahun. (Kompas, Sabtu, 30 Juni 2012).

Dominasi usaha bisnis oleh pendatang baru jelas terlihat di perkotaan, dimana kaum pendatang lebih unggul dalam berdagang. Bila umumnya kaum pendatang berdagang di kios-kios atau toko dengan dagangan aneka rupa kelontong mulai dari sembako, pakaian, alat-alat rumah tangga, maka warga asli Papua umunya menggelar dagangan mereka di emperan toko atau kios di lapak-lapak sederhana, mereka menggelar hasil pertanian seperti pisang, pinang, buah dan sayuran. 

Kendatipun jenis barang yang dijual kaum pendatang dan warga asli Papua kadang-kadang sama, namun dari segi teknik berdagang masih terlihat jauh perbedaannya. Para pendatang sudah menerapkan teknik hitungan melalui timbangan sehingga lebih terukur, warga asli masih menghitung dengan cara onggok demi onggok. 

Payung hukum untuk melindungi warga asli Papua yaitu UU Nomor 21/2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) belum berbicara banyak. Walau disana di jelaskan adanya keutamaan warga asli untuk mendapatkan pekerjaan berdasarkan pendidikan dan keahliannya, namun nampak belum memadai. Aspek politik seputar polemik otsus lebih cenderung berputar-putar pada masalah jumlah dana yang diperlukan untuk pembangunan Papua  bukan pada upaya pemberdayaan warga asli Papua agar memiliki daya saing menghadapi kesenjangan ekonomi.

Pekerjaan rumah terbesar pemerintah RI mendatang adalah mencari terobosan membangun sinergi kaum pendatang dan warga asli Papua. Semoga tidak terlambat penanganan masalah ini, karena terpinggirnya warga asli Papua dari kegiatan ekonomi jika dibiarkan akan berdampak negatif. 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.