Saturday, August 25, 2012

Beda Pendidikan di Indonesia dan Australia

Bercermin Pada Kaca Retak Sejarah


Kejayaan nenek moyang di masa lampau tidak untuk dibanggakan begitupun dengan keburukan nenek moyang bukan hal yang harus disesali. Proses kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi melahirkan peradaban baru ke arah lebih baik dan melahirkan realitas di kekinian. 

Mari kita berdiri di depan cermin dan melihat wajah kita, wajah Indonesia. Bila kita tidak dapat melihat bayangan yang dapat kita banggakan, tentu bukan salah sang cermin yang merefleksikan citra apa adanya sehingga harus dipukul sampai retak. Yakini bahwa saat di depan cermin adalah saat untuk menata diri ke arah lebih baik.

Dari tulisan Widi Papua, facebooker, yang diunggah di Komunitas Sastra Sukabumi, ada hal mendasar yang menggelitik untuk kita renungkan bersama. Tulisan sederhana yang diharapkan mampu menggugah kesadaran tentang pentingnya pendidikan dan sopan santun bagi sebuah bangsa, seperti dinukil berikut ini dengan sidikit editing pada kaidah penulisan:

Mengapa Australia yang dulu nenek moyangnya berasal dari tahanan kriminal Inggris kini mampu masuk 10 negara TERBAIK untuk tempat tinggal manusia dan memiliki tingkat kriminalitas terendah di dunia....? (Melbourne terbaik)

Mengapa Indonesia yang dulu nenek moyangnya berasal dari orang-orang yang Santun, Ramah dan Berbudi Pekerti Luhur kini masuk dalam kelompok Negara Gagal Dunia, dengan tingkat KORUPSI nomer 3 di dunia dengan tingkat kriminalitas yang sangat tinggi dan moral yang sangat rendah....?

Ternyata semua itu bermuara pada "Paradigma pendidikan" yang kita anut. Para Pendidik, Guru dan orang tua di Australia lebih khawatir jika anak-anak didik mereka tidak jujur, tidak mau mengantri dengan baik, tidak memiliki rasa empati dan hormat pada orang lain dan etika moral lainnya ketimbang mereka tidak bisa membaca, menulis dan berhitung.

"Guru-guru , orangtua dan pemerintah di Australia lebih prihatin jika murid-murid dan anak-anak mereka memiliki prilaku moral yang kurang baik dari pada memiliki prestasi nilai akademik yang kurang baik" 

Mengapa? Karena menurut mereka untuk membuat anak mampu membaca menulis dan berhitung atau menaikkan nilai akademik, kita hanya perlu waktu 3 sampai 6 bulan saja untuk secara intensif mengajarkannya. Tapi untuk mendidik perilaku moral seorang anak, kita membutuhkan waktu lebih dari 15 tahun untuk mengajarkannya.

Mengajarkan baca tulis, berhitung bisa di ajarkan kapan saja, bahkan jika seandainya mereka sudah dewasa dan tua sekalipun masih bisa dilakukan. Sementara mengajarkan Etika Moral waktunya sangat terbatas, dimulai saat Balita (Bayi dibawah lima tahun) dan berakhir saat mereka Kuliah. Selain itu untuk mengubah perilaku moral orang dewasa yang terlanjur rusak dan buruk, hampir sebagian besar orang tidak mampu melakukannya.

Bagaimana dengan pemikiran Pemerintah, Pendidik atau Guru dan Orang tua di Indonesia...???

Keluarga Indonesia, saya yakin jika kita semua segera tersadarkan dan segera bertindak benar, Indonesia masih bisa merubah kondisinya saat ini mulai dari KELUARGA kita sendiri tentunya. Semoga!

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.