Wednesday, August 15, 2012

Kisah Sepotong Roti

Teladan Bagi Para Pemimpin Bangsa


Kisah ini bukan sekedar dongeng pengantar tidur bagi anak-anak. Lebih jauh dari itu, kisah ini layak direnungkan saat menjalani i'tikaf di mesjid pada hari-hari menjelang berakhirnya ibadah puasa. Karena dari kisah yang sederhana ini, kita dapat memetik hikmah yang luar biasa.

Begini :

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada suatu ketika mendapat hidangan makan yang berbeda dari biasanya. Di meja makan terhidang sepotong roti yang masih hangat, berbau harum dan menerbitkan selera makan.

"Dari mana roti ini?" tanya Khalifah pada istrinya.

"Buatan saya sendiri. Tidak lain hanya untuk menyenangkan hati Anda yang setiap hari mengurus umat," jawab sang istri.

"Berapa kau habiskan uang untuk membeli terigu dan bumbu-bumbunya?" tanya Khalifah lebih lanjut.

Sang istri menjawab pertanyaan tetapi dengan menyimpan perasaan heran, "Hanya tiga setengah dirham."

"Aku perlu tahu asal usul benda yang akan masuk ke dalam perutku agar aku dapat mempertanggungjawabkannya ke hadirat Allah swt," kata Khalifah yang kemudian bertanya, "uang setengah dirham itu dari mana?"

"Setiap hari saya menyisihkan setengah dirham dari uang belanja yang Anda berikan, wahai Amiiru-lmu'miniin, sehingga dalam seminggu terkumpul tiga setengah dirham. Cukup untuk membeli bahan-bahan roti yang halaalan thayyiban," kata istri Khalifah menjelaskan.

"Baiklah kalau begitu. Saya percaya, asal usul roti ini halal dan bersih. Namun, saya berpendapat lain. Ternyata, biaya kehidupan kita sehari-hari perlu dikurangi setengah dirham agar kita tidak dapat kelebihan uang yang membuat kita mampu memakan roti atas tanggungan umat," jawab Khalifah Umar bin Abdul Aziz. "Saya juga akan berusaha mengganti harga roti ini agar hati dan perut saya tenang dari gangguan perasaan karena telah memakan harta umat demi kepentingan pribadi."

Hari itu juga Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengeluarkan perintah kepada bendahara Baitu-lmaal untuk mengurangi belanja hariannya sebanyak setengah dirham. 

Semoga kita bisa mengambil suri tauladan dari kisah ini. Betapapun, menjadi pemimpin itu tidak mudah. Sekecil apapun jabatan pemimpin, pada suatu ketika akan dimintai pertanggujawaban.

Disunting dari Abqariyah Umar bin Abdul Aziz, karya Dr Mustafa Mahmud, oleh H Usep Romli HM (PR, 25 Juli 2012)

1 comment:

  1. سبحان الله

    Semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya kepada kita, semoga dengan kisah ini iman kita bertambah

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.