Wednesday, August 8, 2012

Situs Porno, Demokrasi dan Pohon Bonsai

Yang Dilarang Itu Yang Menantang



Kalau ada situs yang paling memiliki daya magnit luar biasa di internet, bisa dipastikan itu adalah situs porno. Mengacu pada data Kementerian Kominfo, pengakses situs-situs porno itu bervariasi, termasuk kalangan siswa. Pengakses dari kalangan siswa SMP mencapai 4.500 pengakses, sedangkan 97,2 persen siswa SMU diperkirakan pernah mengakses situs esek-esek ini. (VIVAnews, 15 Juli 2010).

Dua tahun kemudian, Tifatul Sembiring,  Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo),  mengaku masih tidak mampu sepenuhnya memblokir situs pornografi. Karena menurutnya, sensor dan blokir paling ketat dari pornografi hanya ada di dalam diri seseorang.

"Internet itu seperti pisau. Bisa dipakai untuk memotong daging dan buah. Tapi kalau untuk menusuk orang, itu baru salah. Sama halnya dengan internet," tegas Tifatul. (VIVAnews, 7 Agustus 2012).

Kesulitan Kementerian Kominfo memblokir seluruh akses ke situs pornografi dikarenakan teknologi sudah semakin bebas dan sulit dibendung. Masalahnya jumlah situs di dunia hampir 5 miliar sehingga tidak mungkin diperiksa satu-persatu, bila itu dilakukan bisa baru selesai tahun 2100.

Meski selama ini Kementerian Kominfo telah memblokir sekitar 1 juta situs yang dianggap porno, menghina suku, perjudian, pengancaman terhadap orang lain dan terorisme, serta sebanyak 80 persen dari situs yang diblokir adalah situs porno. Namun Indonesia dengan alasan sebagai negara demokrasi tidak bisa menutup perkembangan itu, berbeda dengan negara otoriter. 

Bagaimanapun membentuk watak dan kepribadian bangsa memang harus dilakukan secara otoriter, bukan dengan demokrasi yang menyerahkan nasib bangsa dan negara pada generasi yang dibentuk secara gamang.  Pemerintah harus belajar dari sebuah pohon bonsai yang indah, yang pada awalnya tumbuh tanpa demokrasi.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.