Friday, August 31, 2012

Sindrom Tradisi Mudik Bangsa Indonesia

Momentum Kemenangan Tapi Menyedihkan


Tradisi mudik ternyata bukan hanya milik bangsa Indonesia saja ketika menghadapi hari raya Lebaran. Mudik sebagai kegiatan budaya juga dilakukan bangsa-bangsa lain di dunia. Bangsa Cina mudik saat Imlek, bangsa Amerika juga mudik saat Thank's Giving Day.

Pemerintah Indonesia harus belajar managemen mudik seperti bangsa Cina. Tradisi pulang kampung di Cina jumlahnya lebih masiv, ratusan juta orang bergerak hampir dalam waktu bersamaan menjelang perayaan Tahun Baru Cina. Namun, nyaris tak terdengar adanya korban jiwa, apalagi mencapai jumlah ratusan.

Operasi Ketupat 2012 yang dilaksanakan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sejak Sabtu (11/8) hingga Minggu (26/8) mencatat 5.233 kasus yang menyebabkan korban meninggal dunia sebanyak 908 orang, 1.505 orang luka berat dan 5.139 orang luka ringan. Melihat begitu banyaknya korban, kita patut prihatin dan turut berduka cita. Betapa kebahagiaan mudik ke kampung halaman saat Lebaran yang sudah di depan mata tiba-tiba sirna begitu saja. 

Sampai kapan tradisi mudik akan menjadi sindrom yang menakutkan? Tentu saja sampai ada managemen mudik yang baku yang dikelola secara profesional dan terintegrasi. Selama ini strategi nasional keselamatan jalan raya di Indonesia dikelola secara multiple dan tanpa target yang terukur dan bahkan tidak terkoordinasi. Akibatnya ketika problem menyeruak, lempar-melempar tanggung jawab menjadi hal biasa dan berujung pada kesepakatan mengkambinghitamkan human eror.

Budaya mudik di dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) termasuk ke dalam hak untuk memelihara dan menikmati kebudayaan, dan hak memiliki kehidupan yang layak. Kesemua hak masyarakat tersebut merupakan bagian dari HAM ekosob (ekonomi sosial budaya) yang telah diratifikasi oleh negara Indonesia.

Para pemangku kepentingan yang terdiri atas pemerintah seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, pemerintah daerah, kalangan dunia usaha dan masyarakat harus mengamankan terselenggaranya mudik agar lancar dan nyaman. Masyarakat berhak mendapat jaminan dan keselamatan selama pergi dan pulang pada tradisi mudik sebagai pelaksanaan implementasi Pasal 32 ayat 1 UUD 1945.

Kita membayar pajak bukan hanya ketika lebaran dan yang membayar pajak bukan hanya warga negara yang berlebaran, oleh karena itu kenyamanan dan keselamatan berlalu lintas harus dapat dinikmati tidak hanya pada saat menjelang dan selama Lebaran. Perlindungan negara kepada warga jangan lagi sebatas pada saat mudik. 

Bukan pidato Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk menyampaikan duka cita atas tradisi mudik yang terlanjur menelan korban yang ditunggu, namun evaluasi pengelolaan angkutan Lebaran 2012 dan rancangan managemen yang bisa menjamin keselamatan dan kenyamanan jutaan rakyat saat mudik dan balik Lebaran di masa-masa mendatang. 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.