Thursday, September 6, 2012

Terapi Inkontinensia pada Wanita

Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup

Kriteria sehingga seseorang disebut mengalami inkontinensia urin (ngompol) jika urin keluar tanpa dapat dikendalikan. Bisa bersifat sementara atau menetap dan bisa jadi gejala dan penyakit lain seperti diabetes melitus, stroke, parkinson atau cidera tulang belakang.

Ngompol tidak membahayakan jiwa, namun mengganggu kualitas hidup karena kekurangan tidur di malam hari akibat terus terbangun untuk ke kamar mandi. Tentu saja keadaan ini membuat badan tidak fit saat bekerja siang hari. 

Agar tidak ngompol, kandung kemih harus bisa relaksasi, saluran kencing dan sphincter (otot untuk menahan urin keluar) bisa menutup dengan baik. Bila semua dalam keadaan baik, kita bisa kontrol kandung kencing memompa dan sphincter merelaksasi (melepaskan), sehingga air kencing akan keluar. Bila normal, bisa kencing sampai tuntas. Namun, ada juga yang setelah berkemih sisanya masih banyak.

Inkontinensia pada wanita 2 kali lebih banyak dibanding pria. International Inkontinensia Society tahun 2008 menyebutkan, di dunia kejadian inkontinensia pada pria 98 juta jiwa dan pada wanita 250 juta jiwa. Diprediksi pada 2013 jumlahnya akan bertambah; pria menjadi 109 juta dan wanita 275 juta jiwa.

Inkontinensia disebabkan karena lemahnya otot-otot dasar panggul akibat proses menua, atau karena kekurangan hormon estrogen seperti pada pasien menopause. Estrogen berfungsi untuk menjamin integritas anatomi saluran kemih dan saluran kelamin wanita. Penurunan hormon estrogen menyebabkan suport untuk jaringan panggul berkurang (atrofi). Hal ini menyebabkan overactive blader (OAB) - kontraksi berlebihan pada otot kandung kemih, menyebabkan rasa ingin berkemih yang berlebihan bahkan sampai ngompol.

Menurut dr. Harrina Erlianti Rahardjo, SpU, PhD, dari Divisi Urologi FKUI, terapi pada penderita inkontinensia dapat diberikan seperti berikut:

Tahap awal, pasien ditawarkan terapi kombinasi non bedah, yakni dengan pemberian obat-obatan yang bertujuan menghambat kontraksi otot di kandung kemih yang berlebihan. Kemudian terapi perilaku, pasien tidak boleh minum melebihi kebutuhan harian (8 gelas), hindari kopi, teh atau alkohol yang memicu rasa ingin berkemih.

Pada penderita obesitas yang tiap kali buang air besar atau buang air kecil harus mengejan, disarankan menurunkan berat badan dan memperbaiki pola makan. Bila kerap kencing di malam hari, disarankan jangan banyak minum setelah jam 6 sore. Melakukan latihan penguatan otot dasar panggul (senam kegel) untuk penderita OAB maupun inkontinensia.

Pada pasien yang bermasalah di pompa, bisa dirangsang dengan listrik (eletrical stimulation). Setelah  terapi kombinasi ini berjalan 3 bulan namun masih gagal, tindakan selanjutnya ialah operasi. 

Tujuan pengobatan, selain memperbaiki kualitas hidup juga untuk menjaga kesehatan ginjal. Bila ada sumbatan di saluran bawah, dan kencing tidak lancar maka tekanan akan balik ke ginjal (reflux) akibatnya fungsi ginjal terganggu.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.