Friday, September 28, 2012

Pentingnya Kosakata Arab Bagi Jemaah Haji

Sebagian Jemaah Menggunakan Bahasa Isyarat


Tak banyak calon haji yang menguasai bahasa Arab, terutama bagi jemaah yang baru pertama kali bepergian ke luar negeri. Maka tak heran ketika mereka kebingungan menghadapi sejumlah situasi setiba di Tanah Suci, terutama ketika bergaul dengan penduduk setempat dan jemaah mancanegara.

Menurut Prof. DR Syarif Hidayat, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, seharusnya calon haji dibekali pengetahuan mengenai situasi dan kondisi Tanah Suci, termasuk bahasa percakapan. Soalnya, jemaah akan berada di sana selama empat puluh hari.

Meski jemaah tidak terlalu sering berinteraksi dengan orang Mekah, namun kadang-kadang berlaku situasi tertentu yang mengharuskan jemaah berinteraksi dengan penduduk setempat seperti ketika hendak membeli berbagai jenis kebutuhan. Setidaknya beberapa kosakata bahasa Arab yang dikuasai akan sangat membantu.

Tidak ada ruginya jemaah berbekal beberapa kosakata Arab tentang kebutuhan sehari-hari, seperti beras, gula dan garam. Jemaah pun alangkah lebih baik lagi bila mengerti kosakata Arab tentang jalan, angka, arah angin dan lambang-lambang yang terpampang di sekitar Masjidilharam dan masjid Nabawi. 

Ketika berada di masjid, baik di Alharam atau Nabawi, kadang-kadang jemaah terpaksa berinteraksi dengan banyak orang. Tidak saja dengan penduduk Arab Saudi, tetapi orang-orang dari berbagai negara.  Mereka menggunakan bahasa Arab, sebagian berbahasa Inggris dan bahkan ada yang menggunakan bahasa isyarat ketika berbicara dengan orang asing.

Sebagian besar pedagang di Mekah maupun Madinah merupakan orang India, Pakistan dan Bangladesh. Jemaah Indonesia masih banyak yang salah persepsi tentang mereka, sehingga menganggap mereka orang Arab. Mereka adalah tenaga kerja yang sebagian besar sudah lama menetap di Arab Saudi dan menggunakan bahasa Arab tak karuan, sehingga tak heran bila jemaah asal Indonesia sukar memahami kata-kata yang mereka ucapkan. 

Kosakata Arab yang harus dipahami jemaah bukanlah bahasa fushah (resmi atau baku), tetapi bahasa 'aamiyah (gaul atau pasaran). Soal bilangan, misalnya, para pedagang tidak menggunakan frasa khamsata 'asyarah untuk menyebut 15, tetapi khamtasy. Begitu juga dengan angka 13, mereka menggunakan tsataltasy, bukan tsalaatsata 'asyarah.

Bahasa resmi biasanya digunakan dalam pengumuman, baik lisan maupun tulisan di seluruh wilayah Tanah Suci. Banyak pengumuman di Mekah, Madinah dan Armina (Arafah, Muzdalifah dan Mina) ditulis dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Melayu. 

2 comments:

  1. Sebenarnya sudah banyak orang arab yang bisa sedikit bahasa Indonesia dan banyak pula orang indonesia yang menetap disana tapi sayang orang Indonesia itu kadang berniat tidak baik ke jamaah haji jadi jamaah agak sungkan berkomunikasi

    ReplyDelete
  2. benar, hammpir semua pedagang2 yg orang sana atau dr negara lain yg bisa berbahasa indonesia walaupun tdk lancar paling tdk bs dimengerti maksudnya, jd tdk terlalu kesulitan utk mencari/membeli sesuatu, bahkan rupiah pun di beberapa toko berlaku

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.