Sunday, September 16, 2012

Tips Menghindari Tersesat di Masjidilharam

Maksimalkan Ibadah di Masjidilharam


Kesucian dan nilai historis Masjidilharam yang tinggi membuat tak sembarang orang bisa menjejakkan kaki di sana. Kesucian masjid itu tak bisa dilepaskan dari keberadaan Kabah, bangunan berbentuk (nyaris) kubus setinggi limabelas hasta yang erat dengan sejarah Islam.

Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail. Pembangunan itu menjadi simbol ketaatan Ibrahim terhadap Allah yang memerintahkan pembangunannya sebagai tempat suci dan kiblat bagi kaum muslimin.

Di Masjidilharam, calon jemaah haji bertawaf, salat dan menjalankan berbagai ibadah dengan (potensi) ganjaran pahala yang berlipat. Selama musim haji, Masjidilharam selalu menjadi tempat yang dipadati oleh jemaah haji dari seluruh dunia. Mengingat begitu padatnya suasana di Masjidilharam, jemaah diharapkan berhati-hati ketika berada di dalamnya karena di tengah lautan manusia resiko tersesat atau terhimpit sangat mungkin terjadi. 

Mengenali kondisi dan lokasi Masjidilharam menjadi keharusan bagi calon jemaah untuk memperlancar dan mempernyaman jalannya ibadah. Selain itu, calon jemaah sebaiknya selalu mengenakan tanda pengenal yang diberikan oleh petugas haji, gelang atau pun kartu yang bisa ditunjukkan kepada TPHI (Tim Pemandu Haji Indonesia) jika dalam kondisi tersesat. Petugas TPHI biasanya berseragam biru dengan identitas bendera Indonesia.

Cara lain untuk mengantisipasi tersesat di Masjidilharam bisa Anda ikuti panduan berikut ini, seperti dimuat PR, 15 September 2012 :

Pertama, ketika memasuki Masjidilharam ingatlah nomor pintu masuk, bila perlu catat nomor pintu itu di buku. Jadikan pintu itu sebagai tempat janjian bertemu dengan teman/istri/suami jika tersesat.

Kedua, bawalah alas kaki selama berada di Masjidilharam (masukkan ke dalam tas/kantong plastik yang bersih, tidak terkena najis). Jangan menaruh di rak penyimpanan alas kaki, karena bisa saja Anda lupa di rak mana menaruh alas kaki).

Ketiga, harus punya tempat janjian bertemu di dalam Masjidilharam, terutama ketika terpisah dari rombongan atau tersesat. Sebisa mungkin, tempat janjian merupakan tempat yang diketahui banyak orang, misalnya lampu hijau tanda dimulainya tawaf, nomor pintu masuk, palang pintu di tepi areal Kabah, dan sebagainya.

Keempat, sebaiknya Anda pergi ke Masjidilharam beregu atau rombongan. Jangan pergi sendirian, terutama bagi jemaah berusia lanjut.

Kelima, jika tersesat di luar masjid, segera kembali ke dalam Masjidilharam. Cari tempat yang mudah dikenali, tenang (jangan panik), dan berusaha mencari jalan pulang sendiri. Jika berbekal telefon seluler, hubungi teman. (Begitu tiba di Tanah Suci, disarankan segera mencatat nomor telefon teman seregu atau rombongan).

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.