Saturday, September 29, 2012

Memutus Agenda Tawuran Siswa

Peristiwa Tawuran, Realitas Ada Kekerasan Dimana-mana


Tawuran sudah menjadi agenda siswa, muncul seperti bom waktu (latent), dan diwariskan sedemikian rupa dari angkatan ke angkatan berikutnya. Mata rantai tradisi kekerasan yang ditularkan melalui kaderisasi senior junior yang bermuatan tindakan pembulian (bullying). Tindakan kekerasan yang biasa dimulai pada awal menjadi siswa baru, pemaksaan oleh senior seperti yang telah diwariskan senior sebelumnya.

Tawuran siswa seolah-olah memperkuat realitas sosial adanya kekerasan di mana-mana. Padahal siswa dan mahasiswa seharusnya menjadi 'iron stock' dan 'agent of social change' (agen perubahan sosial dan masyarakat) di masa datang.

Penanganan masalah tawuran siswa selama ini harus diakui baru sebatas tindakan kuratif. Ketika masalah muncul, semua pihak ribut-ribut mencari solusi.  Padahal semestinya, bisa ditangani secara preventif dengan mengetahui akar masalahnya. 

Dalam proses hubungan antara manusia dalam kehidupan masyarakat pasti akan mengalami berbagai gesekan, benturan dan guncangan karena tidak ada manusia yang mempunyai selera yang sama. Terjadi perbedaan sosial yang tak dapat dihindari, ada lapisan atas, menengah dan bawah dengan berbagai kepentingan yang berbeda.

Perbedaan, jelas akan menimbulkan konflik baik personal maupun sosial. Meski konflik tidak selamanya negatif, namun, konflik yang tidak terkendali akan menuai masalah seperti tawuran.

Sosiolog Amerika Serikat, Lewis Cosser (1913-2003), menitik beratkan pada konsekuensi terjadinya konflik pada sistem sosial secara keseluruhan. Teorinya menunjukkan kekeliruan jika memandang konflik sebagai hal yang merusak sistem sosial karena konflik justru dapat membuka peluang interaksi antar kelompok.

Kendatipun demikian, konflik antara siswa yang sering memicu terjadinya tawuran dapat direduksi dengan memutus dendam masa lalu yang selama ini selalu diwariskan para senior, termasuk tradisi melawan sekolah lain yang dianggap musuh. Berikut ini, beberapa langkah pencegahan timbulnya konflik:
  1. Ada sikap tegas dan kondusif sekolah dan guru.
  2. Kerja sama antara sekolah dengan persatuan orang tua siswa.
  3. Memberikan habituasi (pembiasaan) yang baik kepada siswa tentang nilai-nilai dasar, dari mulai berdo'a, upacara, berteman, berbahasa, dan menyalurkan kelebihan energi melalui kegiatan ekstra kurikuler.
  4. Tidak ragu memberi pujian pada siswa yang pantas dipuji dan menjatuhkan hukuman pada siswa yang pantas dihukum.
  5. Mengadakan kegiatan bersama sekolah lain terutama sekolah yang berdekatan seperti bakti sosial, pentas musik, pertandingan atau perlombaan persahabatan, dan pertukaran siswa dan guru.
  6. Guru dan Orang tua menjadi suri tauladan yang digugu dan ditiru para siswa.   

BACA JUGA :
Pentingnya Kosakata Arab Bagi Jemaah Haji
Mitos dan Kesalahan Umum Ibadah Haji
Cara Mencegah Terpapar Coronavirus
Tips Selama Puncak Ibadah Haji
Pemeriksaan Eletronik Mengintai Kita
Tips Membuat Es Campur
Empat Langkah Tawaf Seperti Malaikat

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.