Sunday, September 30, 2012

Wisata Kuliner di Tanah Suci

Nasi Kebuli, Makanan Yang Terkenal Di Tanah Air 



Ketika berada di Tanah Suci, selain beribadah, waktu luang bisa dimanfaatkan dengan memperkaya khazanah pengetahuan mengenai produk-produk budaya masyarakat setempat. Wisata kuliner di Tanah Suci bisa menjadi pilihan menarik, jemaah bisa pergi berombongan berjalan kaki di sekitar Masjidilharam atau Masjid Nabawi.

Terdapat perbedaan citarasa makanan Arab dengan makanan di tanah air. Kita mengenal aneka makanan dan kekayaan resep dari berbagai daerah di tanah air, makanan tradisional di Arab justru sebaliknya. Kondisi tanah tandus dan gersang dan jarang turun hujan menyebabkan tanaman yang menjadi bahan bumbu-bumbu menjadi relatif sedikit serta hewan ternak yang dijadikan sumber makanan (olahan daging dan susu) juga relatif terbatas. Masyarakat Arab, hanya mengenal kambing dan unta walau makanan impor membanjiri pusat-pusat perbelanjaan. Terbukti dari kuliner khas Arab yang miskin kreasi jika dibanding dengan kuliner nusantara.

Masyarakat Indonesia yang terbiasa makan nasi tentu akan mengalami kesulitan ketika harus berganti makanan pokok dengan roti. Demikian juga dengan orang Arab yang terbiasa mengonsumsi makanan pokok berbahan baku gandum, dilengkapi minyak samin dan zaitun.

Beberapa makanan khas Arab yang paling banyak dicari jemaah dari berbagai negara diantarnya kak, giddoh, kacang arab, manisan zaitun, nasi kebuli, daging kambing bakar dan gulainya. Kak ialah sejenis roti gandum yang diolah dengan cara dibakar, namun tidak terlalu manis, mirip dengan martabak telur di tanah air. Sedangkan giddoh ialah makanan yang berasal dari hati ayam atau hewan ternak lain yang dibakar lalu dijadikan isi roti. Makanan-makanan tersebut banyak dijual tersebar di sekitar Masjidilharam dan Masjid Nabawi, juga termasuk daging kambing bakar dan gulainya.

Jenis makanan lain yang sudah sangat terkenal di tanah air ialah nasi kebuli. Nasi berbahan baku daging kambing, cengkih, dan lada yang biasa disajikan pada perayaan besar keagamaan dan syukuran di rumah-rumah warga keturunan Arab di Indonesia.

Nasi kebuli merupakan salah satu dari sedikit makanan berbahan baku nasi yang dikonsumsi masyarakat Arab. Bagi mereka, makanan berupa roti masih dianggap sebagai makanan pokok hingga kini. Namun, kedatangan pendatang dari berbagai bangsa, untuk berdagang atau berhaji, membuat makanan dari luar Tanah Suci akhirnya mendapat tempat di masyarakat pribumi.

Makanan ringan seperti kacang arab, zaitun juga layak dicoba dan bahkan bisa dijadikan oleh-oleh untuk sanak saudara di tanah air. Di sekitar Masjid Nabawi, pusat makanan bisa ditemukan di dua pasar yang terletak di dekat Masjid Utsman bin Afan dan Masjid Ijabah. Dari kubah hijau Masjid Nabawi, jemaah hanya perlu menempuh jarak 100 meter ke arah Masjid Utsman bin Afan. Sedangkan pasar di sekitar Masjid Ijabah letaknya agak jauh, sekitar 2.500 meter dari Masjid Nabawi.

Di Mekah, saat ini sejumlah pusat kuliner yang dulu terkenal dikalangan para jemaah tak dapat ditemui lagi. Beberapa pasar, seperti pasar Ijah atau dikenal dengan Pasar Seng, sekarang sudah menjadi halaman masjid. Begitu juga supermarket di Marwah, yang masih tersisa hanya supermarket Bin Dawood yang berdampingan dengan Hotel Hilton. 

Mengenai harga, para pedagang menggunakan sistem banderol sehingga jemaah tak memiliki kesempatan menawar. Makanan berat berbahan baku kambing, kisaran harganya 5-10 riyal, sedangkan makanan ringan 2-5 riyal.  

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.