Monday, October 15, 2012

Perjalanan Bangsa Arab dari Peternak ke Pedagang

Perdagangan dan jasa menjadi sektor primadona bagi Arab Saudi.



Kehadiran jemaah haji di Tanah Suci sepanjang tahun baik untuk berhaji atau umrah, menyumbang pendapatan besar terhadap devisa kerajaan Arab Saudi. Perdagangan dan jasa menjadi sektor primadona bagi Arab Saudi, meraup keuntungan melalui penyewaan pemondokan, jasa transportasi, jasa katering, dan perdagangan oleh-oleh yang menjanjikan.

Potensi pasar yang begitu besar di Mekah dan Madinah mengundang banyak pendatang dari berbagai negara untuk mencari peruntungan menjadi pedagang. Mereka bersaing dengan penduduk lokal yang sudah terlebih dahulu menggeluti sektor perniagaan.

Tradisi berdagang sudah dimiliki bangsa Arab sejak lama. Profesi berdagang menjadi pilihan utama mengingat sebagian besar wilayah Arab merupakan gurun yang tidak cocok untuk bertani.

Sebelum dikenal sebagai pedagang, bangsa Arab lebih dikenal sebagai masyarakat nomaden dengan profesi utama peternak (penggembala). Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara berkelompok mencari lahan subur di lembah-lembah (wadi) yang ditumbuhi oleh tanaman pakan ternak. Biasanya di tempat seperti itu terdapat mata air.

Kelompok nomaden itu terikat hubungan kekerabatan yang berdasarkan garis keturunan bapak (patriarki), yang dikemudian hari membentuk suku, kabilah atau bani. Pentingnya sumber mata air bagi mereka sering memicu konflik antar suku yang berujung perang, demi memperebutkan sumber mata air.

Itulah sebabnya mengapa pusat kebudayaan bangsa Arab pada masa lampau selalu terkait dengan sumber mata air. Tradisi yang juga menjadi latar belakang dijadikannya Kota Mekah sebagai tempat berhuni, karena terdapat sumber mata air zamzam.   

Ketika bangsa Arab mengetahui bahwa hewan ternak memiliki nilai ekonomis, mereka mengembangkan profesi menjadi pedagang. Saat itu belum dikenal mata uang, perdagangan dilakukan dengan sistem barter.

Perkembangan itu diikuti terbukanya interaksi ekonomi. Tidak hanya penduduk Mekah dan Yatsrib (Madinah), namun meluas hingga ke Syam (Suriah) di utara dan Yaman di selatan sehingga terbentuklah jalur perdagangan yang ramai pada masa itu.

Jalur perdagangan Yaman-Mekah-Madinah-Syam, pada masa itu sangat strategis. Banyak kabilah yang menjadi bagian di jalur tersebut. Di dalam sirah, pada masa kecil, Rasulullah saw, pun sering dibawa sang paman abu Thalib, berdagang menyusuri jalur tersebut. Di kemudian hari, Muhammad dipercaya memimpin kafilah dagang Khadijah binti Khuwailid di jalur tersebut pula. Pada masa itu perdagangan di jalur itu berlangsung setahun sekali karena perjalanan menyusuri jalur membutuhkan waktu enam bulan.

Setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah, sistem perniagaan berkembang seiring dengan digunakannya mata uang dinar. Hal ini erat kaitannya dengan keberadaan sahabat nabi yang dikenal sebagai ahli ekonomi, diantaranya Utsman bin Afan dan Abdurrahman bin Auf.

Jalur perdagangan yang terbentuk mencuatkan nama-nama kota dengan keunggulan komoditas masing-masing. Mekah dikenal sebagai penghasil ternak, sedangkan Madinah, Syam dan Yaman mengunggulkan produk pertanian. 

Kini jalur perdagangan tersebut sudah tidak ada seiring perkembangan sistem perdagangan modern yang juga dianut oleh Arab Saudi. Alat angkut yang ditarik kuda atau onta diganti dengan kendaraan roda dua atau pesawat udara. Kecangggihan transfortasi memangkas waktu tempuh yang dulu berbulan-bulan menjadi hanya beberapa menit. Sistem perdagangan dan ekonomi berkembang semakin efektif dan efisien. 

Ketika minyak bumi ditemukan, penduduk Arab Saudi mengalami perubahan secara sosial. Banyak warga lokal yang berpaling untuk bekerja di ladang emas hitam tersebut. Namun, budaya berdagang tidak seluruhnya hilang dalam diri masyarakat Arab Saudi. Setidaknya pada musim haji, banyak penduduk lokal yang berniaga bersama para pendatang. 

Di Kota Mekah, para pendatang banyak yang membuka lapak dagang di pinggiran jalan sebagai pedagang kaki lima. Mereka menjual berbagai makanan, seperti telur rebus, nasi, sayur mayur dan roti. Produk non makanan berupa perhiasan, kitab dan perlengkapan salat juga dapat ditemukan. 

Para pedagang kaki lima yang berasal dari berbagai negara menguasai jalanan di Mekah dan Madinah. Kondisi ini terjadi karena Pemerintah Kerajaan Arab Saudi lebih mengutamakan warga pribumi terutama yang terikat erat kekerabatan untuk mendapatkan izin berdagang di pusat-pusat pertokoan. 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.