Friday, October 19, 2012

Boscha Terancam Polusi Cahaya

Indonesia pernah memiliki observatorium terbesar dan tercanggih. 



Ternyata Observatorium Bosscha di Lembang Bandung penamaannya diambil dari nama Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang saudagar teh yang memberikan sekitar delapan hektare tanahnya kepada pemerintah Belanda, Nederlandsch-Indie Sterrenkundige Vereeniging (NISV) untuk mendirikan tempat penelitian di bidang astronomi. 

Observatorium yang dibangun dalam kurun waktu 5 tahun atau sejak 1923 sampai 1928 ini memiliki lima teleskop bintang. Salah satunya Tekeskop Refraktor Ganda Zeiss yang memiliki 2 lensa objektif dengan diameter masing-masing lensa 60 cm dan titik api fokusnya 10,7 meter. Teleskop Refraktor Ganda Zeiss  biasa digunakan mengamati bintang ganda visual, mengukur fotometri gerhana bintang, dan mengamati planet Mars, Saturnus, dan Jupiter. 

Pada suatu masa, Indonesia pernah menjadi satu-satunya negara di AsiaTenggara yang memiliki observatorium terbesar dan tercanggih. Oleh karena itu, hingga saat ini di tingkat Asia Tenggara, ada semacam perkumpulan para ilmuwan astronomi. Fakta bahwa Bosscha sebagai tempat penelitian dan pendidikan seputar astronomi.

Saat ini terdapat perbedaan persepsi yang terjadi di masyarakat soal Bosscha. Sejak rencana pembangunan pada 1923, Bosccha tidak akan pernah dijadikan tempat wisata, melainkan untuk riset. Namun, semenjak 1960-an orang-orang Belanda mulai berpikir jika pendanaannya terus-menerus disuplai oleh Belanda maka akan repot, sehingga dibentuklah Jurusan Astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun ternyata hal itu saja tidak cukup karena masyarakat belum memahami fungsi Bosscha, akhirnya diberilah kesempatan kepada masyarakat untuk berkunjung ke Bosscha agar lebih mengenal apa itu Bosscha.

 Sebelum reformasi pemerintahan pada 1998, keberadaan Bosscha masih sesuai dengan rencananya semula, yaitu untuk penelitian. Reformasi menorehkan euforia kebebasan untuk membuka diri, termasuk Bosscha.  Puncaknya ketika Riri Reza dan Mira Lesmana mengajukan proposal pengambilan gambar dan shooting film layar lebar di Bosscha. Tayangan "Petualangan Sherina", yang akhirnya menyedot perhatian demikian tinggi dari masyarakat dan berimbas Bosscha mendapat kunjungan yang membludak.

Sekarang Bosscha berjalan dengan apa adanya, walaupun untuk riset masih bisa. Namun, kualitas langit di sekitar Bosscha semakin buruk. Pengaruh cahaya dari pemukiman penduduk terutama papan reklame-reklame yang banyak dipampang di sekitar Lembang mengakibatkan cahaya bintang menjadi samar. 

Polusi cahaya menjadi masalah semua negara seperti Inggris, Jerman, dan Malaysia yang memiliki observatorium seperti Bosscha. Namun, di negara-negara tersebut masyarakatnya sudah sadar bahwa cahaya dari rumah-rumah mereka mengganggu observasi, sehingga mereka memutuskan memakai penudung pada lampu yang dipergunakannya.

Selain polusi cahaya, masalah lain Bosscha yaitu laju kendaraan berat yang melintas di sekitarnya. Teropong yang dimiliki Bosccha bersifat sangat rentan akan getaran. Jika terjadi pergeseran sedikit saja akibat getaran, bisa membuat teropong tidak lagi presisi. Akibatnya bintang yang sendang dijadikan penelitian tidak tepat sasaran sebab posisi setiap bintang di langit sangat berimpitan dengan bintang lainnya, sehingga jika terjadi salah koordinat memungkinkan hasil penelitian jauh dari harapan.

Dulu, teropong yang dimiliki Bosscha merupakan teropong kategori besar. Namun, seiring perkembangan teknologi di Asia Tenggara, teropong Bosscha termasuk kategori kecil walau masih terbilang canggih di kelasnya. Dari sisi alat, teropong Bosscha memakai lensa dan bukan cermin. Artinya, dari segi pengukuran lebih akurat dibandingkan dengan yang cermin. Oleh karena itu, teropong Bosscha dapat dipakai untuk mengukur jarak, posisi, dan kecepatan bintang dengan lebih detail.


No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.