Tuesday, October 9, 2012

Misteri Dibalik Perseteruan KPK versus POLRI


Upaya pelemahkan, pengkerdilan dan kriminalisasi KPK.



Konflik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) jilid dua   memanas ketika ketua KPK Abraham Samad menyatakan siap menandatangani surat penahanan salah seorang tersangka tindak pidana korupsi pengadaan simulator ujian Surat Izin Mengemudi (SIM) di Korps Lalu Lintas Polri, Inspektur Jenderal Djoko Susilo.

Sebagai jawaban, Polri akan menangkap Kompol Novel Baswedan, salah seorang penyidik utama KPK dalam kasus tersebut. Publik mengenali peristiwa Jumat (5 Oktober) sebagai upaya kriminalisasi orang-orang yang ada di tubuh KPK, salah satu upaya dalam melemahkan dan  membonsai KPK.

Setidaknya ada tiga cara yang secara terang benderang dilakukan guna melemahkan KPK guna melanggengkan, menyenangkan dan membuat nyaman para perampok uang rakyat.

Pertama, dengan mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK). Menurut Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Denny Indrayana sudah 17 kali UU KPK diuji materi. Namun, selalu batal karena MK menegaskan penuntutan sesuai dengan UUD 1945 dan penyadapan tidak masalah.

Kedua, pelemahan KPK lewat legislasi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Dalam hal ini, DPR mencoba mengutak-atik UU KPK yang telah ada dengan cara merevisinya.

Ketiga, pelemahan KPK dengan mengkriminalisasikan orang-orang yang ada di tubuh KPK. Seperti kasus Cicak versus Buaya yang menyebabkan dua pimpinan KPK saat itu, Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah mendekam di tahanan Polisi pada 29 Oktober 2009.

Dalam kasus KPK versus Polri jilid dua, bukan tidak mungkin timbul gesekan yang terjadi dalam tubuh Polri sendiri. Karena, masih banyak perwira tinggi, perwira menengah dan prajurit polri yang menggunakan hati nurani melihat keadaan bangsa dan negara yang seusungguhnya, yang penuh dengan korupsi, pungutan liar dan bentuk-bentuk penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Harapan semua, para polisi masih bernurani bersih, berani menyuarakan kebenaran, demi bangsa dan negara, bukan demi kepentingan perorangan atau institusi Polri.

Dalam menghadapi upaya pelemahan dan kriminalisasi yang tidak akan pernah berhenti, semua berharap KPK tetap tegar. Rakyat Indonesia, kecuali koruptor dan koleganya, mendukung setiap langkah dan gerakan KPK dalam memberantas korupsi yang terlanjur menjadi budaya.

Ketua KPK Abraham Samad dalam akun twitter-nya, @Samad Abraham, Minggu (7 Oktober) menulis, "Kami tidak akan mundur selangkah pun berjihad melawan koruptor, walau kami diteror oleh Polri atas sepengetahuan Presiden."

1 comment:

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.