Friday, October 26, 2012

Manfaat Haji Bagi Seluruh Negeri

Haji memiliki kontribusi yang baik untuk masyarakat.



Kualitas haji mabrur tidak hanya ditentukan oleh terpenuhinya syarat dan rukun ibadah haji. Indikator haji mabrur tidaklah terlihat dalam simbol keagamaan semata, karena haji mabrur bisa diartikan sebagai perilaku jemaah haji yang mampu memberikan kebaikan terhadap sesama dan mampu menjaga diri dari perbuatan tercela.

Haji mabrur merupakan proses panjang sejak dimulainya seseorang berniat dan berikhtiar untuk haji dan kemudian proses selanjutnya ditempuh ketika mereka berada di Tanah Suci dan kembali ke tanah air. Pihak yang paling tahu berkualitas atau tidaknya haji seseorang adalah Tuhan dan sang haji sendiri, sementara khalayak umum, hanya bisa melihat indikasi ketika sang haji kembali ke kampung halaman. Maka untuk menggapai haji mabrur, setiap jemaah tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan semua ritus dengan baik melainkan mereka juga harus memiliki kontribusi yang baik untuk masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. 

Momentum penting bagi jemaah haji adalah saat wukuf di Arafah, saat terbuka kesempatan untuk mengevaluasi diri untuk berperilaku dan memperbaiki komitmen kembali kepada kebaikan. Arafah merupakan miniatur Padang Mahsyar di akhirat kelak. Jutaan manusia berkumpul untuk menerima hisab (hasil perhitungan) amal perbuatannya selama di dunia. Jadi selama wukuf, jemaah bisa menghisab amal ibadah sebelum penghisaban yang sebenarnya dilakukan di hadapan Allah.

Selama ini, pengetahuan tentang haji cenderung mengutamakan teknis ritual saja. Padahal, haji merupakan ibadah yang memiliki kaitan dengan permasalahan sosial kekinian yang terjadi di masyarakat. Aspek lahiriah yang menekankan pada pemenuhan norma-norma atau syarat-syarat berhaji akan lebih afdal jika disertai pemahaman yang lebih bersifat esoteris (batiniah) dalam diri jemaah haji sehingga mampu mengkontekstualkan dimensi lahiriah rangkaian haji dalam berbagai permasalahan sosial di tanah air.

Hikmah dalam rangkaian haji, jemaah seolah-olah menjadi Ibrahim yang didera kesulitan serta kesukaran dalam menjalankan perintah Allah. Sang Nabi harus meninggalkan istri dan anak di tengah padang tandus. Kemudian Ia pun harus menyembelih putra kesayangannya, Ismail yang Ia peroleh dengan susah payah.

Nabi Ibrahim melaksanakan semua perintah Allah tanpa bantahan. Ketaatan mutlak Bapak Monoteisme itu, tegas dalam memerangi pemujaan terhadap segala bentuk berhala demi kemurnian tauhid. Kini, berhala-berhala itu berwujud harta, teknologi, dan kekuasaan yang tak ada habisnya diburu manusia. Kerusakan sosial akibat penyembahan berhala pada era modern menimbulkan korupsi, ketimpangan sosial dan dekadensi moral.

Kini, jemaah haji sedang menapak tilas proses yang telah ditempuh Sang Nabi. Semoga contoh yang diberikan Nabi Ibrahim  mampu membuat mereka mengenali diri lalu bertekad untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim untuk seluruh negeri.

BACA JUGA :
Bagaimana Meningkatkan Etika Kerja?
Oleh-Oleh Haji dari Bandung
Keistimewaan Pemakaman Ma'la di Kota Mekah
Keistimewaan Menara Jam Royal Mekah
Maulid Nabi dari Masa ke Masa
Perjalanan Bangsa Arab dari Peternak ke Pedagang
KPK Melanggar Hukum?
Benarkah Kiswah Betuah?

1 comment:

  1. Haji tidak sekedar simbol dan bertambahnya 1 huruf di depan nama "H". Predikat haji lebih mengarah kepada prilaku sesudah menunaikan rukun Islam yang ke-5 tersebut.

    Tentu sangat tidak berguna jika huruf "H" di depan nama tidak diimbangi dengan prilaku terpuji dalam kehidupan. Mestinya seorang yang mendapat tambahan 1 huruf itu tidak pelit tetapi dermawan, suka menolong, rajin beribadah dsb.

    Satu hal lagi, Rasul tidak mencantumkan predikat haji di depan namanya. Tidak pernah disebutkan bahwa Nabi dan rasul terakhir adalah H. Muhammad saw.

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.