Sunday, October 7, 2012

Benarkah Kiswah Betuah?

Kiswah adalah produk peradaban dari zaman ke zaman.



Kiswah, kain hitam yang menutupi Kabah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan kiblat Muslim seluruh dunia. Kiswah sering kali diidentikkan dengan Kabah dan sebaliknya, sehingga muncul anggapan bahwa kiswah memiliki nilai keagungan dan spiritual yang tinggi. 

Sebagian jemaah haji mengkultuskan kiswah, yang lebih nekad lagi, menggunting kiswah untuk dijadikan cendera mata bahkan jimat keberuntungan bagi si pemakai. Tindakan jemaah haji seperti itu berpotensi menjerumuskan diri pada kemusyrikan, karena kiswah bukanlah bagian dari Kabah melainkan produk peradaban yang berkembang di setiap zaman.

Sepeninggal Nabi Ibrahim, Kabah sempat dijadikan media pemujaan bangsa Quraisy pada zaman jahiliah. Dipelatarannya berbaris berhala sesembahan seperti Latta, 'Uzza, Manat dan Habal. Sampai suatu ketika, seorang jahiliah bernama Alhimsyari bermimpi melihat Kabah diselubungi kain. 

Pada masa itu, mimpi mengenai tempat sakral dengan isi yang terbilang aneh, layak dipercaya masyarakat dan dianggap sebagai petunjuk yang harus dilaksanakan. Sejak itulah Kabah kemudian diselubungi kiswah. Meskipun demikian, umat Islam tidak menolak kebiasaan itu karena dinilai baik. Kabah menjadi lebih terlindungi dari debu, panas dan hujan. Selain itu, kiswah memperindah Kabah.

Pada mulanya, selubung Kabah berbahan baku kulit hewan yang dipintal. Pada zaman Rasulullah, bahan kiswah diganti dengan kain hitam yang berasal dari Yaman. Kiswah diganti setahun sekali, setiap tanggal 9 Zulhijah, ketika jemaah haji berwukuf. Sebenarnya, kebiasaan itu tidak muncul pada zaman Nabi, namun pada zaman sesudahnya. Pada zaman khulafau-rrasyidin, kain kiswah di datangkan dari Mesir karena relatif kebih dekat ke Mekah bila di bandingkan dengan dari Yaman.

Dalam perkembangannya, kiswah tidak hanya berwarna hitam. Pada zaman beberapa khalifah, kiswah beberapa kali berganti warna. Kiswah bebahan kain tenun pertama kali digunakan dengan warna merah. Pada masa Khalifah Harun Arrasyid memimpin, kiswah diganti dengan warna putih. Pergantian rezim berikutnya juga mengganti warna kiswah. Khalifah Annasir (dari bani Abbasiyah) mengganti kiswah dengan warna kuning. 

Pada masa daulah akhirnya ada kesepakatan bahwa warna kiswah adalah hitam dengan bahan kain tenun. Namun, kain tenun tidak lagi didatangkan dari Mesir tetapi diproduksi di Arab Saudi tepatnya di kota Mekah. Kiswah semakin mewah dengan adanya hiasan kaligrafi bersulamkan emas. Kiswah semakin mahal karena adanya sulaman emas yang tak bisa dikerjakan menggunakan mesin, namun harus menggunakan tangan manusia. 

Popularitas kiswah sebagai kain yang tak terpisahkan dari Baitullah, membuat jemaah Indonesia pun latah menjalankan kebiasaan yang tak termasuk rukun dan sunah haji. Perbedaan latar belakang pendidikan seringkali dituding sebagai faktor ketidakmampuan jemaah untuk membedakan mana bagian haji yang menjadi ritus dan mana yang hanya tradisi. 

Praktik pengultusan kiswah tetap berlangsung hingga kini, bahkan berpotensi bisnis. Walau telah disadari bahwa fungsi kiswah hanya sekedar penutup Kabah, terbukti banyak pedagang yang menjajakan kain kiswah palsu kepada jemaah. 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.