Sunday, October 21, 2012

Ketika Mutu Hasil Pendidikan Dipertanyakan

Sejumlah ketentuan tentang standar pendidikan telah diberlakukan.



Telah 10 tahun Undang-Undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diundangkan. Namun, belum ada hasil pembaruan dan pengembangan terhadap mutu pendidikan yang bisa diberikan dunia pendidikan di Indonesia. 

Praktik pendidikan dewasa ini, menurut Rektor Universitas Negeri Padang, Prof Phil Yanuar Kiram, diwarnai terjadinya penyimpangan seperti praktik menyontek di kalangan siswa atau mahasiswa saat ujian, kurang terintegrasinya nilai-nilai karakter cerdas dalam substansi pembelajaran, dan terdegradasinya kefitrahan peserta didik yang menjadi objek kekerasan dan penghukuman oleh pendidik. (Kampus UPI, 18 Oktober 2012).

Phil menyebutkan, kondisi tersebut telah menjadi keprihatinan semua pihak. Ditambah lagi dengan kondisi masyarakat yang cukup meresahkan seperti korupsi, terorisme, tawuran antarpelajar dan antarwarga. 

"Penegasan tentang sosok keilmuan pendidikan dan keprofesian pendidik sangat diperlukan apabila kita ingin menegakkan teori praktik pendidikan profesional di tengah arus globalisasi yang semakin kencang dan boleh jadi menyesakkan bagi yang tidak siap menghadapinya," ujar Phil (PR, 19 Oktober 2012).

Sejumlah ketentuan tentang standar pendidikan telah diberlakukan. Kurikulum sudah ditingkatkan, mulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pendidikan profesi mulai digulirkan hingga sertifikasi guru, bahkan pengelolaan secara khusus telah dirintis seperti Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. 

UU Guru dan Dosen juga telah lama diimplementasikan, termasuk kebijakan sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan kesejahteraan guru yang diharapkan secara otomatis meningkatkan kualitas kompetensi guru yang kemudian juga meningkatkan kualitas pendidikan. 

Rektor UPI Prof Sunaryo Kartadinata mempertanyakan, apakah ada jaminan, dengan memiliki sertifikasi kinerja guru akan lebih bermutu? 

Menurut Sunaryo, pertanyaan ini penting dijawab secara kritis analisis karena bukti-bukti hasil sertifikasi dalam kaitan dengan peningkatan mutu guru cukup bervariasi. Di Amerika Serikat, kebijakan sertifikasi guru belum berhasil meningkatkan kualitas kompetensi guru, salah satunya karena kuatnya resistensi guru sehingga pelaksanaan sertifikasi berjalan lambat.

Dalam 10 tahun Amerika hanya menargetkan 10.000 guru untuk disertifikasi, sedangkan Indonesia dalam waktu yang sama menargetkan 2,7 juta guru. Besarnya target jumlah sertifikasi guru yang sangat masif, menurut Sunaryo, mengandung risiko yang tidak kecil dalam upaya peningkatan mutu guru. Sebagai perbandingan, di Korea Selatan dan Singapura, kebijakan yang sama telah berhasil meningkatkan kualitas kompetensi guru.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.