Friday, October 12, 2012

Cermat Sebelum Membeli Obat Herbal

Jenis obat herbal yaitu jamu, obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka.


Terdapat beragam produk obat herbal yang semakin marak di pasaran, bahkan dengan dukungan iklan yang menarik tersebar di media cetak maupun media elektronik. Begitu juga dengan pilihan produknya, tersedia mulai dari bentuk tablet biasa hingga ke olesan. Jenis obat yang menarik bagi penderita yang membutuhkan pengobatan dalam jangka waktu lama, karena dipercaya dapat memberikan efek kesembuhan lebih cepat.

Namun sebelum menentukan pilihan jenis obat herbal yang akan dibeli, sebaiknya mengenali terlebih dahulu jenis-jenis obat herbal yang ada di Indonesia. Hal ini untuk memperkirakan sejauh mana efek yang ditawarkan obat herbal tersebut terhadap penyakit yang di derita, juga jangan sampai terlalu berharap berlebihan dari obat tersebut.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia membagi obat herbal menjadi tiga jenis, yaitu jamu, obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka.

Jamu, disebut juga sebagai obat tradisional Indonesia (OTI), yakni ramuan herbal yang diracik dari bahan-bahan yang terdapat  pada tumbuhan, hewan,  mineral, atau sari tumbuhan. Khasiat yang didapat dari jamu didapat berdasarkan pengalaman nyata, bukan dari penelitian-penelitian, sehingga disebut pengobatan dengan model empiris. Maka dalam kemasan produk jamu sebenarnya tidak boleh dilampirkan istilah-istilah farmakologis. Misalnya, untuk jamu yang biasa digunakan untuk meringankan nyeri otot, tidak boleh ditulis sebagai analgesik.

Obat herbal terstandar (OHT), berbeda dengan produk jamu karena OHT dibuktikan khasiatnya secara laboratorium dengan uji preklinis. Begitu juga keamanan penggunaannya telah dipastikan karena telah melalui uji toksisitas. OHT berasal dari tanaman-tanaman yang seragam, artinya dari daerah yang sama dengan perlakuan yang sama. Inilah yang dimaksud terstandar. Pada prinsipnya, tanaman-tanaman dari daerah yang berbeda dan mengalami perlakuan yang berbeda, meskipun berasal dari jenis yang sama, dapat memiliki khasiat yang berbeda. 

Fitofarmaka, jenis obat yang telah melalui serangkaian uji lebih lanjut dibandingkan dengan OHT, yang disebut uji klinis (clinical trial). Uji klinis ini menggunakan manusia sebai subjek penelitian. Standarisasi, efikasi, dan keamanan fitofarmaka pun telah dipatikan. Maka, fitofarmaka memiliki kedudukan yang setara dengan obat-obatan modern pada umumnya.Penggunaannya bukan lagi sebagai suplemen atau tambahan bagi obat-obatan modern. Dalam kemasannya dapat ditemukan berbagai informasi farmakologis selayaknya obat kimia seperti indikasi klinis, cara penggunaan obat, efek samping dan lain sebagainya.

Setelah mengetahui jenis obat herbal ada bainya juga mengenali obat herbal yang akan dibeli dengan tepat dari logo dan label yang tercantum dalam kemasannya. Jika produk ang akan dibeli tidak berlogo, dapat dipastikan produk tersebut adalah jamu karena kecil sekali kemungkinan produsen OHT atau fitofarmaka luput menampilkan label dan logo obat herbal pada produk mereka, mengingat pentingnya informasi tersebut bagi konsumen selain juga besarnya investasi yang harus dikeluarkan agar suatu produk dapat mencapai level OHT atau fitofarmaka. 

Selain memperhatikan logo, perhatikan juga tanggal produksi dan tanggal kadaluwarsa produk tersebut. Bagi penderita penyakit kronis dan berat, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat tersebut. Berikut ini logo yang dapat dijadikan acuan ketika memilih produk obat herbal :


BACA JUGA :
Mengatasi Nyeri Pada Wanita
Benarkah Kiswah Betuah?
Pembasuh Organ Intim Wanita, Amankah?
Pentingnya Vitamin A untuk Ibu Hamil
Diagram Periksa Payudara Sendiri
Khasiat Wijen Bagi Kesehatan Tubuh

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.