Monday, October 8, 2012

Mengatasi Nyeri Pada Wanita

Wanita lebih sering mengalami rasa nyeri.



Tanda vital kelima setelah tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, dan suhu tubuh ialah nyeri. Seseorang bisa merasakan rasa nyeri berbeda meski rangsangan penyebabnya sama. Intensitas nyeri dipengaruhi kepribadian seseorang. 

Merasa nyeri berarti ada jaringan yang rusak. Berdasarkan mekanismenya, nyeri dibagi dibagi menjadi : akut, kronik dan kanker. Nyeri akut ialah nyeri dengan inflamasi atau pembengkakan, berlangsung selama beberapa hari sampai proses penyembuhan. Tanda utama inflamasi adalah rubor (kemerahan), kalor (kehangatan jaringan), tumor (pembengkakan), dolor (nyeri jaringan), dan fungsio laesa (kehilangan fungsi jaringan).

Nyeri kronik adalah nyeri tanpa inflamasi, berlangsung lama atau lanjutan dari akut, dan nyeri masih terasa meski kerusakan jaringan sudah sembuh. Sedangkan nyeri kanker merupakan kombinasi dari nyeri akut dan nyeri kronis, ada inflamasi dan nyeri berlangsung terus-menerus.

Studi klinis dan statisktik dalam dunia kedokteran menunjukkan, terdapat perbedaan antara kondisi nyeri pada wanita dan pria, dikaitkan dengan penyakit tertentu. Wanita lebih sering mengalami nyeri, bahkan derajat intensitasnya lebih berat dan durasinya lebih lama dari pria.

Wanita bisa merasakan lebih nyeri pada penyakit rheumatoid arthitis, osteoarthitis, migraine; selain keluhan yang berhubungan dengan ginekologi, kehamilan dan hormon. Wanita memiliki mekanisme biologi yang berbeda, mencakup hormon, genetik dan perbedaan struktur anatomi.

Studi lain menunjukkan, wanita memiliki toleransi dan batas ambang nyeri lebih rendah dibanding pria.  Pengaruh psikososial meliputi emosi tinggi, cemas, depresi, yang lebih sering dialami wanita berpengaruh terhadap penatalaksanaan nyeri yang optimal.

Prinsip dasar mengatasi rasa nyeri sesuai rekomendasi WHO adalah menggunakan analgesik (penghilang rasa sakit) dan anti-inflamasi (jika disertai radang). Analgesik bekerja menekan prostaglandin (mediator nyeri), dan anti-inflamasi menekan sistem imun sehingga dapat mengatasi terjadinya radang. 

Menurut Prof. DR. dr Harry Isbagyo, Sp.PD-KR, K.GR, analgesik ada dua golongan, yaitu non opioid dan opioid. Obat-obatan golongan non opioid diberikan sebagai lini pertama untuk mengatasi keluhan nyeri. Sedangkan nyeri hebat, dapat diatasi dengan analgesik opioid seperti morfin, kodein, metadon, dan narkotika lainnya.

Inflamasi diatasi dengan anti-inflamasi, yang dibedakan menjadi anti-inflamasi kortikosteroid. Kortikostiroid dosis tinggi diberikan untuk mengontrol nyeri berat. Sedangkan kostikostiroid dosis rendah untuk mengontrol nyeri ringan. Obat anti-inflamasi non steroid memiliki aktivitas anti-inflamasi, analgesik dan anti piretik (anti demam), misalnya aspirin. Namun menurut Harry Isbagyo, untuk meminimalkan efek samping , jika mengalami nyeri segera konsultasi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan sesuai dengan masalah nyeri yang dialami.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.