Wednesday, December 19, 2012

Misteri Jatuhnya Sukhoi Superjet 100

Pilot mengobrol sehingga mengabaikan Terrain Awareness Warning System (TAWS).



Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum lama ini mengungkap penyebab terjadinya peristiwa naas kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, 29 Mei 2012. Ternyata, pesawat yang sedang melakukan penerbangan promosi itu tidak dilengkapi informasi wilayah Bogor, termasuk keberadaan Gunung Salak. 

Dalam penerbangan tersebut terdapat 45 orang, terdiri dari 2 pilot, 1 navigator, 1 flight test engineer, dan 41 penumpang yang terdiri dari 4 orang personel dari Shukoi Civil Aircraft Company (SCAC), 1 orang personel dari pabrik mesin pesawat (SNECMA) dan 36 orang tamu undangan yang terdiri dari 34 orang warga negara Indonesia, 1 warga Amerika Serikat, dan 1 orang warga Perancis. 

KNKT pun menyimpulkan penyebab jatuhnya pesawat Sukhoi RRJ-95B beregistrasi 97004 Superjet 100 pada 9 Mei 2012 lalu, disebabkan dugaan pilotnya sedang mengobrol. Kondisi tersebut dinilai sebagai faktor manusia (human factor) dan bukan kesalahan pilot (human error). 

“Harusnya pilot itu konsentrasi. Tetapi pilot mengobrol sehingga mengabaikan Terrain Awareness Warning System (TAWS). Para pilot seharusnya diberi pelajaran mengenai hal itu. Kalau direktur bisa ke kokpit harus ada batasannya,” kata Ketua KNKT Tatang Kurniadi di Jakarta (18 Desember 2012). 

Menurut Tatang, 38 detik sebelum pesawat itu menabrak Gunung Salak. TAWS memberikan peringatan berupa suara “terrain a head pull up” (medan di depan naik) diikuti dengan enam kali peringatan suara “avoid terrain” (hindari medan). Pilot In Command mematikan TAWS tersebut, karena berasumsi peringatan-peringatan tersebut akibat database yang bermasalah. 

Tujuh detik menjelang menabrak gunung, sempat terdengar peringatan suara “landing gear not down” (roda pendaratan tidak turun) dari sistem peringatan pesawat. Peringatan “landing gear not down” aktif apabila pesawat berada pada ketinggian kurang dari 800 kaki di atas permukaan tanah dan roda pendarat belum turun. 

Dikemukanan, pada pukul 14.26 WIB, pilot meminta izin untuk turun ke 6.000 kaki serta membuat orbit ke kanan. Petugas Jakarta Approach mengizinkannya, tujuannya agar pesawat tidak terlalu tinggi untuk proses pendaratan di Halim Perdanakusumah dengan menggunakan landasan 06. 

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Yurievich Galuzin mengakui, hasil investigasi penyebab jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat merupakan laporan objektif dan seimbang. Menurutnya, laporan tersebut merupakan hasil kerjasama efektif dan konstruktif antara Rusia dan Indonesia, Komite Aviasi Antarnegara, Kementerian Industri dan Perdagangan Rusia, Kemenhub, KNKT, dan lain-lain. Kesimpulan dan isi laporannya sudah diterima semua pihak yang terlibat, seperti Rusia, Indonesia, Amerika Serikat, dan Prancis, untuk penyempurnaan sistem-sistem keselamatan penerbangan.

BACA JUGA :
Kemegahan Istana Maimun di Medan
Aturan Parkir Menurut Lebar Jalan
Kepribadian Bayi Menurut Bulan Kelahiran
Plus Minus Kartu Kredit
Pentingnya Mitigasi Dalam Pembangunan
Akankah Kurikulum 2013 Lebih Baik?
Bagaimana Memahami Aturan Korupsi?
Misteri Seputar Peringkat Korupsi Indonesia

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.