Saturday, January 19, 2013

Pencegahan Kekerasan Seksual Pada Anak

Ajari anak untuk berani mengatakan tidak pada sentuhan tak dikehendaki.



Kekerasan seksual pada anak akhir-akhir ini mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan setelah  terungkap begitu banyak anak yang menjadi korban perkosaan, pelecehan seksual, trafficking, bahkan dijadikan pekerja seks komersial  anak. Depinisi kekerasan seksual pada anak adalah penyalahgunaan perlakuan pada anak untuk memuaskan kebutuhan seksual orang dewasa.

Terdapat berbagai bentuk kekerasan pada anak yang kerap dilakukan orang dewasa, seperti memperdengarkan cerita atau memperlihatkan gambar porno pada anak, membuat film atau gambar porno dengan objek anak-anak, mempertontonkan alat kelamin pada anak, menyentuh atau menciumi bagian tubuh yang sensitif (kelamin) anak, meminta anak menyentuh bagian sensitif (kelamin) orang dewasa, memeluk dan meraba anak secara tidak wajar, dan melakukan hubungan seks dengan anak (perkosaan atau sodomi pada fedofilia).

Anak korban kekerasan seksual, sering mengalami perubahan mental-emosional dan perilaku. Menurut Teddy Hidayat, Psikiater, Kepala Prodi Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa, Universitas Padjadjaran, orang tua, guru atau tenaga kesehatan perlu mewaspadai adanya kekerasan seksual pada anak bila pada anak ditemukan ; menolak olah raga, hubungan sosial buruk, tingkah laku seks yang tidak sesuai usia, lari dari rumah dan bolos dari sekolah, ngompol atau mengisap jari atau takut kegelapan, kesulitan mengontrol emosi atau bereaksi berlebihan terhadap sentuhan, gangguan tidur disertai mimpi-mimpi buruk atau anak mengalami kesulitan berjalan atau duduk. (PR, Jum'at 18 Januari 2013).

Anak korban kekerasan seksual, sering tidak berterus terang menceritakan peristiwa yang dialaminya atau mengeluhkan penderitaannya pada orang tua. Hal ini sering dilatarbelakangi oleh komunikasi antara anak dan orang tua yang kaurang baik; sikap orang tua yang otoriter dan anak tidak pernah diminta pendapatnya atau anak selalu disalahkan. Tampilan korban kekerasan seksual pada anak dapat berupa keadaan : ditemukan noda darah pada pakaian, anak sering mengeluh nyeri pada waktu kencing (infeksi termasuk penyakit menular), anak mengatakan sakit di daerah kelamin anak, ditemukan memar pada alat kelamin luar (vagina atau sodomi) atau anak telat haid karena kehamilan.

Mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak adalah kewajiban semua orang tua, guru di sekolah  masyarakat. Upaya pencegahan ini perlu diberikan secara khusus mengingat kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak banyak dan sering terjadi. 

Anak perlu mendapat penjelasan tentang bagian-bagian tubuh termasuk bagian tubuh pribadi (alat kelamin dan area pribadi seperti payudara, pantat, anus, penis, vagina), kenalkan fungsi bagian tubuh tersebut dan minta anak berani melaporkan bila terjadi kekerasan seksual pada mereka.

Penting sekali mengajarkan anak agar mengenal sentuhan-sentuhan yang berbeda. Sentuhan yang baik dan menyenangkan, contohnya pelukan selamat datang, ciuman saat pamit sekolah, jabatan tangan saudara atau teman. Sentuhan yang buruk dapat berupa memukul, meraba-raba, meremas atau sentuhan pada daerah pribadi. Anak diberi contoh konktret sentuhan yang buruk untuk meyakinkan mereka mengerti konsepnya. Misalnya, sangat tidak baik bila ada orang dewasa ataupun teman yang memegang payudara, anus, penis, vagina anak. Tidak memotret anak tanpa busana atau berbahaya jika ada orang dewasa mengajak tidur bersama.

Jelaskan pada anak bahwa sentuhan buruk dapat dilakukan oleh orang yang sangat dikenal (tetangga atau keluarga) atau orang yang tidak dikenal, dengan membujuk memberi permen, uang, atau tumpangan mobil. Sampaikan pada anak bahwa orang asing adalah orang yang tidak dikenal, meskipun mereka sering mengaku kenal dan mencoba akrab.

Ajari anak untuk berani mengatakan tidak pada sentuhan tak dikehendaki. Penting juga untuk melatih berteriak "Jangan, jangan sentuh saya!", atau "Saya tidak mau melakukannya!", atau "Tidak, saya tidak boleh dan tidak diizinkan melakukan itu!" Kemudian ajari juga anak untuk berlari ke tempat ramai dan berteriak, lari ke satpam, polisi, guru atau teman. 

Anak korban kekerasan seksual sering ditakut-takuti dan diancam agar tidak menceritakan pada orang lain. Anak harus didorong untuk mau berbagi pengalaman dan tanamkan keyakinan bahwa kita tidak akan marah atau menyalahkan anak, jelaskan bahwa mereka tidak boleh menyimpan rahasia meskipun pelaku mengancam mereka.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.