Monday, January 7, 2013

Media Sosial, Primadona "Si Penggoda"

Media sosial mampu menjadi penopang peradaban.


Keberadaan media sosial saat ini telah masuk dalam daftar kebutuhan masyarakat. Media sosial menjadi semacam wabah dan menggejala menjadi suatu kebutuhan. Tanpa mengenal batas usia, dari anak-anak hingga orang tua larut bergumul dengan media sosial.

Sebenarnya, manusia sudah lama mengenal media sosial dunia. Menurut Pepih Nugraha dalam buku Citizen Journalism, bahwa manusia memulai dunia media sosial, sejak mereka mengenal e-mail yang pertama kali dikirmkan tahun 1971. Kemudian disusul kemunculan mailing list, usenet, dan bulletin board system.

Justen Hall, merupakan wartawan free lance yang dianggap sebagai blogger pertama karena menulis catatan hariannya di internet tahun 1994. Kemudian, istilah weblog mulai dikenal pada 1997. Dua tahun kemudian, Peter Merholz menciptakan blog yang penggunanya bisa dipanggil blogger. Pada tahun 1998-1999 bermunculan media sosial lain yang hampir serupa dengan blog seperti Open Diary, Live Journal, Pitas.com, serta blogger.com yang kemudian dibeli oleh Google tahun 2003. Jejaring pertemanan Facebook muncul tahun 2004, bersamaan dengan Flickr. Layanan yang berbagi video, Youtube, muncul tahun 2005. Setahun kemudian, muncul Twitter dan Spotify.

Media sosial menjadi sebuah gaya hidup layaknya fashion, tontonan, bacaan, dan makanan. Masyarakat terbius oleh facebook, twitter, friendster, mig3, Yahoo Messenger, blog pribadi atau beramai-ramai dan sebagainya. Media sosial menjadi primadona penggoda yang tidak terelakkan dengan segudang manfaat yang layak dipertimbangkan tapi berpotensi bahaya layaknya bom waktu. Media sosial mampu menjadi penopang peradaban, namun juga menyita waktu untuk dibuang-buang percuma.

Media sosial sebagai jendela dunia selain buku,  menjadi jembatan pertukaran informasi, gagasan, pengetahuan, berdiskusi, berbagi catatan bahkan sampai mencipta opini. Masalah media sosial muncul ketika fungsinya disalahgunakan untuk menebar kebencian, teror dan kebohongan. Tanpa banyak halangan, orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan mudah melakukan hal yang tidak terpuji itu, biasanya menggunakan akun palsu tanpa perasaan takut terlacak.

Kita harus bijak menggunakan media sosial. Tidak berarti meninggalkan sepenuhnya atau memberikan cercaan sebagai benda berbahaya, namun harus lebih mampu menggunakannya untuk mendulang manfaatnya. Kemudian dengan segala usaha menghindari kemudaratan yang dibawanya.

Tidak semua informasi layak dipublikasikan dalam media sosial. Seperti informasi yang terlalu pribadi, sesuatu yang berbau permusuhan, kebencian, teror dan kebohongan. Sebagai  pengguna media sosial, kita dituntut selektif terhadap informasi yang muncul di dalamnya. Tidak semua hal dari media sosial, layak dikonsumsi. 

2 comments:

  1. nice info
    http://gayatekno.blogspot.com/2013/01/memilih-bank-menentukan-masa-depan.html

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.