Monday, January 28, 2013

Perubahan Iklim Global

Perubahan iklim berpotensi merongrong pembangunan di masa depan.


Lembaga analisis risiko, Maplecroft yang berbasis di Inggris, merilis data bahwa sepertiga umat manusia - kebanyakan tinggal di Afrika dan Asia Selatan - menghadapi risiko terbesar dampak perubahan iklim. Sebaliknya negara-negara lebih kaya di Eropa, berisiko lebih kecil.

Menurut Maplecroft, Bangladesh, India, dan Republik Demokratik (RD) Kongo adalah beberapa di antara 30 negara dengan tingkat risiko "ekstrem" dari dampak perubahan iklim. Secara keseluruhan Maplecroft merilis daftar 193 negara dalam Indeks Kerentanan Terhadap Perubahan Iklim (Climate Change Vulnerability Index atau CCVI).

CCVI digunakan untuk melihat dampak atau paparan dari kejadian-kejadian menyangkut cuaca, seperti kekeringan, angin ribut, serta gelombang badai yang menyebar sangat cepat. Kejadian-kejadian ini mengindikasikan adanya tekanan air, hasil panen yang kian menyusut, serta pendangkalan laut. Kerentanan umat manusia juga diukur dari kejadian-kejadian terkait cuaca, juga potensi setiap negara beradaptasi dengan risiko atau bahaya perubahan iklim di masa depan.

Lima negara di Asia Tenggara - Indonesia, Myanmar, Vietnam, Filipina, dan Kamboja - juga berada dalam kategori berisiko tinggi. Hal ini terjadi terutama karena naiknya permukaan air laut dan meningkatnya intensitas badai besar di kawasan ini.

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 17.504 pulau dan panjang garis pantai 81.000 km, sangat rentan terhadap kenaikan muka air laut. Nicholls, dkk. (2000) memetakan daerah rentan terhadap kenaikan air laut setinggi 45 cm pada tahun 2080. Prediksi terakhir yang dibuat Working Group I Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim pada Februari 2007 yang berhubungan dengan laut menunjukkan, tingkat muka air laut naik rata-rata 2,5 mm per tahun dan akan terus mencapai 31 mm pada dekade berikutnya.

Pada sisi yang kontras, Islandia, Finlandia, Irlandia, Swedia dan Estonia menempati daftar negara-negara teratas berisiko rendah terhadap perubahan iklim. Dengan kekecualian Israel serta Qatar dan Bahrain, 20 negara dengan risiko terkecil terletak di kawasan utara dan tengah benua Eropa.

Di sisi lain, Cina dan AS - penymbang emisi karbon nomor 1 da 2 dunia, berada dalam kategori "sedang" dan "rendah". Dalam analisis sama terhadap kota-kota utama dunia dalam risiko serupa, Maplecroft menempatkan Dhaka, Addis Ababa, Manila, Kolkata, dan Chittagong sebagai kota paling rentan. Sementara tiga kawasan metropolitan India lainnya - Chennai, Mumbai, dan New Delhi - dikategorikan berisiko "tinggi". 

"Kerentanan terhadap perubahan iklim berpotensi merongrong pembangunan di masa depan," kata Charlie Beldon, salah satu peneliti dalam anaisis tersebut (dalam The Economic Times). 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.