Sunday, February 24, 2013

Siapa Kelompok Golongan Putih?

Political disaffection dipicu oleh semakin meningkatnya perilaku buruk politisi.



Minggu, 24 Februari 2013, warga Jawa Barat melakukan pemilihan gubernur baru. Harapan semua, bahwa pemilihan gubernur akan selesai satu putaran, atas pertimbangan penghematan anggaran dan agar gubernur terpilih dapat segera bekerja.

Memilih dan memilah gubernur dan wakilnya dengan cerdas ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan. Kelima pasangan calon gubernur dan wakilnya memang sudah menawarkan program serta mengharap rakyat memilihnya. Selama kampanye berlangsung, semua calon percaya dapat menyelenggarakan pemerintahan yang baik dan program-programnya akan dilaksanakan secara optimal.

Pemilihan gubernur Jawa Barat dibayangi munculnya kembali golongan putih. Catatan pilgub Jabar 2008, golput mencapai 9.130.604 suara (32,6 persen), melebihi perolehan suara gubernur terpilih Ahmad Heryawan dan pasangannya yang meraih 7.287.647 suara. Diperkirakan pada pemilihan kali ini golongan putih akan meningkat mendekati 45 persen. 

Penyebab munculnya golongan putih menurut banyak pengamat ialah karena hilangnya kepercayaan pada sistem politik atau political disaffection, lunturnya kepercayaan terhadap pembangunan sebagai sarana kesejahteraan, kejenuhan terhadap janji-janji kampanye, dan apatis dengan kelemahan birokrasi.

Political disaffection dipicu oleh semakin meningkatnya perilaku buruk politisi yang dapat kita saksikan setiap malam melalui tayangan televisi atau media cetak pada keesokan harinya. Pemilihan langsung yang telah banyak mengorbankan banyak waktu, dana, dan tenaga ternyata hanya melahirkan kaum pemuja harta yang tamak. 

Tidak adanya informasi yang cukup tentang hasil evaluasi laporan pertanggungjawaban gubernur setiap tahun menjadi salah satu penyebab hilangnya kepercayaan terhadap pembangunan yang di jalankan. Apa yang telah dilakukan gubernur selam lima tahun terakhir sangat penting sebagai dasar pijakan bagi publik untuk membuat putusan politik.

Janji-janji kampanye selama ini sudah menjadi sesuatu yang menjemukan. Publik telah jenuh mendengar bagaimana para calon gubernur melemparkan program diluar jangkauan keuangan daerah dan kewenangan seorang gubernur. Pembohongan demi pembodohan terus berjalan sebagai bagian memuluskan jalan.

Alasan lain menjadi golput dapat juga karena tidak menerima kartu pemilih. Bagi yang tidak menerima, namun ada keinginan untuk memilih dapat melakukan pengaduan dan bila sebaliknya maka mereka akan apatis.

Menjadi golput juga sebenarnya sebuah pilihan, walau MUI telah menyatakan haram untuk golput  melalui Ijtima Ulama sebagai respon atas usulan Ketua MPR  yang saat itu dijabat Hidayat Nurwahid. Menghadapi kelompok golput tidak cukup diatasi dengan sikap represif atau mengeluarkan fatwa haram. Mengakhiri tulisan ini, sudahkah para kandidat membangun kepercayaan publik seperti yang seharusnya?


BACA JUGA :
Mencari Pemimpin Prorakyat Bagai Beli Kucing Dalam...
Ancaman Kejahatan Seks Dunia Maya
Waspadai Konflik Komunal dan Horizontal
Apakah Elektabilitas Hasil Survei atau Opini?
Industri Politik Paling Menjanjikan?
Kamar Bung Karno di Lapas Pariwisata Sukamiskin
Mobil Masa Depan Dikendalikan Lewat iPad
10 Fakta Menarik tentang Barack Obama

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.