Wednesday, February 20, 2013

Apakah Elektabilitas Hasil Survei atau Opini?

Independensi lembaga survei terkait dengan pemilihan kepala daerah patut dipertanyakan.



Harus diakui bahwa fenomena angka-angka yang dikeluarkan lembaga survei yang dikemas dalam nilai popularitas dan nilai elektabilitas yang tinggi sangat mengesankan baik bagi masyarakat maupun kandidat gubernur atau wakil gubernur. Hasil survei tersebut seolah-olah sudah menempatkan seseorang sebagai pemenang dalam pertarungan pemilihan kepala daerah.

Apakah betul angka-angka tersebut merupakan hasil  dari survei lapangan atau hanya sekedar menggiring opini publik? Selanjutnya, sampai sejauh mana lembaga survei jujur dengan hasil surveinya atau mereka bagian dari kepentingan kandidat?

Independensi lembaga survei terkait dengan pemilihan kepala daerah patut dipertanyakan, masyarakat awam tidak memiliki akses langsung dengan data dari masing-masing lembaga survei tersebut karena dianggap sebagai data rahasia dan hanya untuk kepentingan kandidat yang membayarnya. Bahkan, kandidat itu sendiri pun tidak pernah mendapat data mentahnya, semua sudah dikemas menjadi informasi. Kemudian rekomendasi yang disampaikan kepada kandidat bukan pendekatan politik atau tindakan politik melainkan hanya saran bagaimana membuat flyer sebanyak-banyaknya kalau bisa ratusan ribu sampai jutaan eksemplar.

Lembaga survei tentu saja selalu menggunakan bungkus profesionalisme dalam menjelaskan angka-angka hasil surveinya. Namun, semua angka-angka tersebut ada satu cara ketika lembaga survei tidak bisa disalahkan, yaitu dengan mengangkat persentase yang belum memilih.

Lembaga survei politik seharusnya melakukan survei politik tidak saja menjelang even pemilu dan pemilukada saja jika memang ingin masuk dalam industri politik demokratis. Paling tidak, para lembaga survei dapat merujuk ke Gallup Pooling di Amerika yang secara rutin melakukan survei-survei politik secara independen dan kredibel. Terpenting dari semua itu, lembaga survei mampu menjaga kredibilitas dan profesionalitas, menjalankan kerja secara independen dengan melakukan proses survei secara transparan dan akuntabel baik sisi pembiayaan maupun hasil surveinya. 

BACA JUGA :
Industri Politik Paling Menjanjikan?
Kamar Bung Karno di Lapas Pariwisata Sukamiskin
Mobil Masa Depan Dikendalikan Lewat iPad
10 Fakta Menarik tentang Barack Obama
Mengenal Oscar Pistorius Sang Blade Runner
Benarkah Sprindik Bocor?
Pentingnya Pakta Integritas
Peristiwa Pengeboman Jembatan Karangresik

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.