Saturday, February 2, 2013

Mengenal Hipotermia

Sebagian korban, tidak menyadari bila terkena hipotermia.



Tulisan ini diberikan sebagai bekal kepada para pendaki gunung pemula, karena korban hilang bahkan tewas di gunung kebanyakan berusia muda. Memperhatikan faktor keselamatan adalah hal utama setelah persiapan matang dan antisipasi. Ingatlah, bahwa tak seorang pun pendaki gunung sejati yang sungguh-sungguh berniat mendaki gunung hanya untuk mati konyol disana. 

Suhu tubuh manusia pada umumnya tetap, yakni sekitar 37 derajat Celsius. Namun, jika terlalu lama di tempat dingin, maka tubuh akan mengeluarkan panas tubuh yang lebih besar dari kemampuan tubuh yang memproduksinya. Hal ini mengakibatkan penurunan suhu tubuh, jika sampai lebih rendah dari 35 derajat Celcius maka tubuh mengalami berbahaya yang disebut hipotermia.

Hipotermia menyerang sistem saraf dan bergerak dengan pelan. Sebagian korban, tidak menyadari bila terkena hipotermia. Kebanyakan korban mengeluh merasa lelah dan mengantuk pada awalnya sehingga perlu kehadiran seseorang untuk segera menolong dan mencegahnya. (Rick Curtis, dalam buku Outdoor Action Guide To Hypothermia and Cold Weather Injuries).

Medicine for Mountaineering mendefinisikan hipotermia sebagai "penurunan suhu inti (organ dalam) tubuh hingga ke tingkat dimana fungsi-fungsi otot dan otak menjadi terganggu".  Hipotermia dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti suhu dingin, pakaian dan perlengkapan yang tidak memadai, kebasahan, kelelahan (kehabisan energi), dehidrasi, asupan makanan yang buruk, atau asupan beralkohol (yang dapat mengarah pada peningkatan pembuangan panas tubuh).

Beberapa tanda-tanda hipotermia dapat dikenali dari ciri-ciri; jika seseorang sudah mulai berjalan dengan tersandung-sandung, bergumam tidak jelas, meraba-raba, atau mengoceh, yang menunjukkan bahwa orang tersebut mengalami perubahan pada koordinasi otot motorik dan penurunan tingkat kesadaran. Gejala lain hipotermia ringan adalah gigi gemeretak atau menggigil. Biasanya dalam kondisi seperti ini, tidak dapat melakukan fungsi motorik yang rumit (mendaki atau memanjat), tetapi masih bisa berjalan dan berbicara.

Tahap selanjutnya, mulai linglung, kehilangan koordinasi motorik terutama pada tangan sehingga tidak bisa mengikat tali sepatu, mengancingkan baju dan lain-lain. Hal ini disebabkan terbatasnya aliran darah di periperal tubuh. Selain pengucapan kata yang tidak jelas dan bersikap tidak peduli (masa bodoh), korban juga mulai bertingkah aneh atau tidak masuk akal.

Puncak dari gejala hipotermia adalah korban tidak lagi merasa kedinginan, tetapi sebaliknya malah merasa kepanasan. Pada tahap "paradoxical feeling of warmth" inilah biasanya korban mulai menanggalkan pakaian (berlawanan dengan kondisi sekitarnya yang mengalami kedingingan), penyebabnya selain kepanasan, korban juga terkena halusinasi. 

Pada saat korban mulai kehilangan kesadaran, semakin mudah ia mengalami halusinasi. Faktor halusinasi ini yang sangat berbahaya, korban sering kali membayangkan atau melihat berbagai hal (yang sebenarnya tidak ada atau tidak nyata) dan ia cenderung mengejar apa yang dilihatnya tanpa menghiraukan sekelilingnya.

Pada keadaan hipotermia parah, suhu inti tubuh berkisar antara 33,3 - 30 derajat Celcius (atau lebih rendah lagi), kondisi ini mengancam nyawa korban. Ia menggigil secara liar, bergelombang lalu berhenti sejenak sebelum menggigil lagi. Selang waktu antara gigilan yang satu dan berikutnya semakin lama semakin panjang hingga akhirnya berhenti sama sekali karena output panas dari pembakaran glikogen tidak mencukupi. Hal ini terjadi karena tubuh menghentikan gigilan untuk menghemat glukosa, dengan tujuan untuk menurunkan suhu tubuh inti. Selanjutnya korban jatuh ke tanah, tidak dapat berjalan dan meringkuk, terjadi kejang-kejang pada otot karena aliran darah berkurang, kulit memucat dan denyut nadi menurun.

Pada suhu 32,2 derajat Celcius tubuh mencoba masuk tahap hibernasi (hidup namun tidak sadar) dengan cara menghentikan semua aliran darah di periperal tubuh, mengurangi kecepatan pernapasan dan detak jantung. Pada suhu inti tubuh 30 derajat Celcius, tubuh dalam kondisi "metabolic icebox". Korban nampak seperti meninggal walaupun sebenarnya masih hidup.

Prinsip dasar merawat korban hipotermia adalah mengembalikan panas (tubuh) yang hilang atau menghangatkannya kembali, yakni dengan cara menghemat panas yang ada, dan mengganti bahan bakar tubuh yang sudah dihabiskan untuk menghasilkan panas tersebut. Berikan sumber panas dari luar tubuh dengan cara menyelimuti atau memasukan korban dalam sleeping bag. Perkecil kehilangan panas dengan menggunakan pakaian kering. 

Sangat penting menjaga korban hipotermia memiliki kecukupan cairan dan bahan bakar dalam tubuh. Berikan jenis makanan yang mengandung karbohidrat, gula, coklat batangan, atau camilan yang banyak mengandung kacang dan kismis. Hindari memberikan asupan yang mengandung alkohol, kafein, atau pun nikotin. Alasannya, alkohol dapat meningkatkan hilangnya panas dari periperal tubuh, kafein menyebabkan kehilangan air dan meningkatkan dehidrasi dan nikotin dapat meningkatkan risiko frosbite.

Kematian akibat hipotermia kebanyakan diakibatkan pengambilan nafas tak teratur dan pendek-pendek, kesadaran korban menurun drastis, serta detak jantung tak menentu. Setiap kejutan mendadak bisa menghentikan denyut nadi, jantung berhenti bekerja dan akhirnya korban meninggal dunia.

Sumber : Cakrawala - PR, 31 Januari 2013. Resume tulisan Yuni Mogot-Prahoro, mahasiswa Program S3 Fikom Unpad, pegiat lingkungan dan pecinta alam.


BACA JUGA :
Bagaimana Memilih Asuransi Kendaraan?
Cathinone Bukan Narkoba Jenis Baru
Kebiasaan Sehari-hari yang Menambah Berat Badan
Benarkah Ada Narkoba Jenis Baru?
Mumi Gadis Inca yang Membeku

1 comment:

  1. masukan yang sangat bagus..hidup mendaki gunung!

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.