Wednesday, February 20, 2013

Waspadai Konflik Komunal dan Horizontal

Presiden menggaris bawahi bahwa Pemilu 2014 akan lebih kompetitif dan panas.



Walau Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 masih jauh di depan, namun aroma persaingan dan pertentangan antarsesama perserta pemilu mulai terasa hangat dan cenderung memanas. Bahkan banyak kalangan yang mengkhawatirkan persaingan tersebut berujung pada konflik horizontal di tingkat akar rumput. Tentu hal ini harus bisa diantisipasi oleh semua pihak yang terkait.

Sebuah prosesi suksesi kepemimpinan politik memang wajar menyajikan aroma persaingan. Namun, sudahkah masyarakat faham bahwa persaingan tersebut tidak boleh menjalar ke luar ranah politik, apalagi berujung pada eskalasi sosial? 

Masyarakat sebagai bagian terpenting dari pemilu adalah penentu kepemimpinan nasional dan keterwakilannya di parlemen. Tanpa rakyat, pesta demokrasi lima tahunan itu sungguh tidak berarti. Namun, tingginya tingkat partisipasi masyarakat dapat mendorong tingkat interaksi yang berpotensi menimbulkan gesekan dan konflik di masyarakat akibat keinginan yang berbeda.

Terjadinya konflik komunal dan horizontal patut diwaspadai dan semua pihak terkait diminta jangan lengah dan harus mencegah konflik tersebut, begitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan saat sidang kabinet (18 Februari 2013). Presiden minta agar Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2013 tentang "Penanganan Gangguan Dalam Negeri" tetap dijalankan. Jika konflik tidak bisa dicegah, banyak kerugian akan diderita, baik nyawa manusia maupun harta benda.

Presiden menggaris bawahi bahwa Pemilu 2014 akan lebih kompetitif dan panas karena tidak ada calon petahana. Semua kontestan akan berjuang lebih keras untuk menang. Namun, semua pihak dituntut menjalankan pemilu secara damai. Pemilu boleh panas tetapi harus tertib, teduh dan damai. Bagaimanapun, kriteria keberhasilan pemilu juga dilihat dari cara menyelenggarakan, menggelar, dan membuat pesta demokrasi yang baik dan berkualitas.

Kepolisian RI (Polri) juga memprediksi berbagai kerawanan, termasuk konflik komunal dan horizontal, pada 2014 akan meningkat yang disebabkan suhu politik yang kian memanas. Kapolri menegaskan pentingnya menjaga keamanan untuk mewujudkan pemilu yang tertib dan aman karena setiap pemilu selalu menimbulkan kerawanan. Keamanan pemilu ini harus benar-benar diperhatikan. Hal tersebut akan memiliki efek sosial dan mengganggu sistem demokrasi yang sedang dibangun.

Dalam dua bulan pertama tahun 2013, kasus konflik komunal menunjukkan penurunan. Namun, ini bukan jaminan bahwa sepanjang tahun ini tidak akan terjadi konflik lagi. Polri mencatat, selain disebabkan suhu politik yang kian memanas, terdapat empat pemicu konflik di luar pemilu, yakni terbatasnya akses masyarakat di bidang agraria, sengketa kepemilikan tanah akibat tumpang tindihnya izin, kesenjangan ekonomi, kemudian diperparah oleh hiruk-pikuk pertarungan kepentingan elite politik.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.