Saturday, February 23, 2013

Mencari Pemimpin Prorakyat Bagai Beli Kucing Dalam Karung

Pemilihan gubernur adalah bagian dari pemilu sebagai momen pesta demokrasi.



Perekrutan calon legislatif (caleg) oleh partai politik untuk mendongkrak elektabilitas selama ini selalu menempuh cara instan, yaitu dengan sekedar mengakomodasi kalangan artis walau tidak sedikit caleg dari kalangan artis bahkan tidak memiliki kualitas dan kapasitas yang memadai. Padahal, perekrutan politik adalah persoalan serius dan mendasar bagi hadirnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) partai politik yang handal dan mumpuni. 

Agar selalu laku, partai politik harus selalu tampil berkilau dalam persepsi dan imajinasi publik sehingga partai politik nampak tidak lebih dari sebuah produk industrial. Publik hanya diperlukan sebagai konsumen politik yang hanya diperlukan ketika partai politik perlu dukungan, walau publik pada hakekatnya adalah konstituen politik.

Kejenuhan publik menghadapi pemilu atau pemilukada menjadikan pesta demokrasi seolah hanya milik para kandidat dan pendukungnya. Demokrasi berubah ekslusif tidak menyentuh masyarakat dan perjuangan menyuarakan aspirasi berhenti ketika pemilu usai. Hal ini terlihat dari jumlah suara pemenang yang lebih sedikit dibandingkan dengan suara golput.

Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat yang akan diadakan 24 Februari mendatang, diharapkan menjadi jalan perubahan di tengah masyarakat ke arah yang lebih baik. Fakta jumlah penduduk yang masih berada di bawah garis kemiskinan di Jawa Barat per September 2011 bertambah menjadi 4.650 orang atau meningkat 0,05 persen dari hasil pendataan Maret 2011 yang dilakukan BPS. Dari fakta ini publik bisa melihat bagaimana kinerja gubernur yang lama sehingga kemiskinan meningkat di tahun berikutnya?

Dana kampanye yang akan dikeluarkan untuk Pilgub Jawa Barat mencapai Rp 700 milyar untuk satu kali putaran, bila harus dua putaran tentu harus mengeluarkan dana Rp 1,4 trilyun. Dana kampanye yang besar membuat para calon gubernur dan calon wakil gubernur (cagub dan cawagub) mencari sokongan dana dari pihak lain, seperti pengusaha. Bagi pengusaha, ini adalah peluang bagi kepentingannya. Adanya campur tangan pihak kapitalis ini berpotensi melahirkan pemimpin atau penguasa yang tidak prorakyat. Dikhawatirkan kelak mereka akan terlalu sibuk melayani kepentingan kapitalis karena politik balas jasa.

Pemilihan gubernur adalah bagian dari pemilu sebagai momen pesta demokrasi. Demokrasi menempatkan kedaulatan di tangan rakyat meski pada prakteknya kepentingan rakyat menjadi nomor sekian setelah kepentingan lain. Salahkah bila rakyat berandai-andai, andai dana sebesar pemilihan gubernur sebesar itu digunakan untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan, memperbaiki jalan, dan hal-hal lain yang dibutuhkan rakyat dan lebih bermanfaat?

Pemilihan gubernur Jawa Barat 24 Februari 2013, semoga bukan ajang membeli kucing dalam karung karena publik terbuai iklan dalam kemasan yang menarik. Paling tidak masih ada sisi lain yang bisa digunakan sebagai acuan penilaian, bagaimana latar belakang keluarga, pekerjaan, karier politik, dan apa yang sudah mereka berikan untuk bangsa dan negara ini. Selamat memilih dan memilah dengan cerdas!


No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.