Thursday, March 28, 2013

Potensi Ekonomi Bambu

Dalam perjuangan merebut kemerdekaan kita, bambu urun bakti.



Bambu merupakan identitas bagi masyarakat Indonesia. Keberadaan bambu seperti halnya batik lekat dengan budaya, sosial, dan sejarah perjuangan bangsa.

Sejak dahulu, bambu digunakan sebagai pengganti cangkir untuk minum atau bambu sebagai tempat menyimpan air, tempat nasi atau bakul (boboko), hingga untuk dinding (bilik). Bambu juga membantu perkembangan budaya, seperti angklung, karinding, calung, suling dan sebagainya. Bahkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan kita, bambu runcing ikut memberi bukti.

Pohon bambu tumbuh subur di lingkungan  sekitar kita dan beragam jenisnya. Dari sekitar 1500 spesies bambu di dunia, 174 spesies atau 10 persennya di antaranya berada di Indonesia. Sayangnya, potensi ekonomi bambu Indonesia belum mampu berbicara banyak dalam arus perdagangan bambu dunia. Saat ini, industri bambu dunia masih dikuasai Cina, Taiwan, Vietnam, dan India.

Invetasi di sektor bambu selama ini kurang diminati karena tidak ada jaminan pasokan bahan baku. Namun kini semakin disadari pentingnya keberadaan hutan bambu maupun komoditasnya, baik terhadap pelestarian lingkungan maupun potensi perekonomian masyarakat pedesaan. Maka seiring meningkatnya kebutuhan bambu di masyarakat dilakukan berbagai upaya pemulihan dan pelestarian lingkungan.

Provinsi Jawa Barat pernah dikenal sebagai daerah berkultur hutan bambu, sebagai salah satu penunjang kesuburan, kelestarian lingkungan dan kultur masyaraktnya. Namun, pada dekade terakhir banyak kawasan hutan bambu yang hancur karena penebangan liar dan habis dijual sehingga berdampak pada risiko longsor, banjir dan kekeringan.

Potensi pohon bambu, umumnya terdapat di kawasan-kawasan perbukitan atau tinggi, seperti di Bandung, Sumedang, Subang, Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Ciamis, dan Majalengka. Menurut Sobirin Supardiono, Koordiantor Dewan Pakar Pemerhati Lingkungan Kehutanan dan Tatar Sunda (DPLKTS), saat ini di Jawa Barat masih ada sekitar 40 juta rumpun bambu yang mendesak diselamatkan, bahkan harus dapat dikembangkan kembali, terutama pada lahan-lahan di kemiringan 20-80 derajat.

Pengembangan kembali hutan bambu di Jawa Barat akan di giatkan kembali, setidaknya ada empat pihak yang saat ini berminat melakukannya, Dinas Kehutanan Jawa Barat, PT Bakti Usaha Menanam Nusantara Hijau Lestari I, PT Perkebunan Nusantara VIII, dan Perum Perhutani Unit III. Pengembangan kembali hutan bambu diantaranya diarahkan kepada industri lamina, termasuk pengembangan kerajinan anyaman, terutama di Tasikmalaya dan Majalengka.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.