Tuesday, March 12, 2013

Kapan Harus Minum Obat Kuat?

Pria penyandang disfungsi ereksi sebaiknya segera mencari pertolongan profesional medis.



Meski sekarang era keterbukaan, namun ternyata masalah disfungsi seksual masih menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan. Banyak pria yang tidak mau mengakui dirinya tidak jantan dan lebih memilih jalan pintas untuk masalah ini, seperti mengonsumsi obat kuat yang kemudian malah membawanya ke masalah lebih dalam. 

Bagi seorang pria, ereksi atau kejantanan bukan soal kepuasan seksual, namun berkaitan dengan simbol kekuasaan. Ketika seseorang kehilangan kemampuan ereksinya, dia merasa kehilangan segalanya yang meliputi kekuasaan dan potensi seksualnya.

Menurut pakar psikiatri DR Teddy Hidayat. SpKJ (K) dari Universitas Padjadjaran, Masalah disfungsi seskual pria adalah masalah yang rumit. Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan performa seks seorang pria menurun. Kondisi medis seperti perokok, penderita jantung koroner, hipertensi, seperti kolesterol tinggi berkemungkinan mengalami disfungsi ereksi dari 40 - 52  persen. Namun yang tidak kalah bahayanya, faktor psikologi yang dialami seorang pria seperti perasaan pasangan tidak menarik karena rasa bersalah tidak setia, kamar tidur yang bersebelahan dengan kamar mertua, stress di tempat kerja, pasangan sering mengkritik, atau bila penghasilan istri lebih besar dari suami.

Bila masalah disfungsi ereksi dibiarkan berlarut-larut, perlahan tapi pasti timbul masalah dalam hubungan suami - istri. Pasangan akan mulai saling menyakiti perasaan masing-masing, mudah tersinggung, marah, dan pada akhirnya mengganggu produktivitas, menyalahkan diri sendiri dan merasa gagal. Akhirnya sampai pada tahap yang disebut depresi dan isilasi atau gangguan kejantanan dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Pria penyandang disfungsi ereksi sebaiknya segera mencari pertolongan profesional medis agar segera didapat diagnosis dan solusi yang sesuai dengan penyebab masalahnya. Sayangnya, karena alasan malu, tabu, atau masih berada pada fase penyangkalan hal ini tidak dilakukan para pria yang mengalami disfungsi ereksi. Kemudian dalam kondisi putus asa, mereka memilih obat kuat.

Sebenarnya tidak semua masalah seksual memerlukan obat kuat, bahkan penggunaan self medicated dalam jangka panjang besar kemungkinan akan memeperbesar masalah seksual yang ditimbulkan dan hanya menimbulkan kepuasan semu. 

Istilah obat kuat, menimbulkan pengertian yang samar tentang segala zat farmakoterapi untuk menguatkan yang lemah. Dalam hal seksualitas, umumnya hal yang lemah selalu diasosiasikan dengan penurunan kualitas ereksi pria sehingga muncul anggapan bahwa obat kuat adalah sesuatu yang secara instan mampu meningkatkan respons seksual pada pria. Padahal, respons seksual bersifat kompleks, tak hanya dapat diperkuat dengan obat-obatan yang membantu secara fisik, namun perlu kondisi psikologis yang baik.

Obat kuat dapat diresepkan oleh dokter jika secara fisiologis terdapat gangguan fisik pada seorang pria. Namun, untuk gangguan psikologis pemberian obat kuat tidak terlalu menolong, padanya lebih tepat dilakukan pemberian konseling seksual untuk resolusi problem yang menimbulkan gangguan psikologis bahkan mungkin lebih memerlukan obat antidepresant daripada obat kuat.

Berdasarkan penelitian, banyak obat kuat yang beredar hanyalah mitos yang kehebatannya hanya tersebar dari mulut ke mulut. Kepercayaan yang berbau mitos ada pada buah durian, sukun, pulosari, patika cina, lengkuas, lada panjang, hingga kayu kemenyan. Kemudian ada mitos keperkasaan yang berdampak pada kepunahan satwa liar seperti lutung buki di Kalimantan Timur, juga badak Jawa dan Sumatera. 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.