Thursday, March 14, 2013

Belajar Soal Perempuan dari Kerala dan Finlandia

Keterdidikan perempuan membuka ruang partisipasi ranah publik.



Telah banyak penelitian yang menunjukkan tingkat keterdidikan perempuan berkontribusi besar terhadap kualitas literasi populasi suatu bangsa dan pada saat yang bersamaan meningkatkan status perempuan di masyarakatnya. Sosok perempuan sering dikaitkan peranannya dalam lingkup pendidikan keluarga, bahkan perempuan terdidik dipandang menjadi kunci terdidiknya bangsa secara keseluruhan.

Di Indonesia, masyarakat Minangkabau yang matrilineal menempatkan perempuan sebagai simbol kekuatan dan kebijakan kehidupan. Masyarakat penganut matrileneal lain juga terdapat di Kerala, yang berhasil menerobos kastanisasi India sehingga sudah sejak lama kaum perempuan di sana memiliki akses yang baik  terhadap pendidikan. Rasio mahasiswa dan mahasiswi di Kerala proporsinya seimbang, maka wajar kalau tingkat literasi perempuan dan populasi secara keseluruhan adalah yang terbaik di India.

Setelah Kerala bergabung dengan India, di sanalah pertama kalinya perempuan menduduki jabatan negara bagian. Hal ini menunjukkan kalau tingkat literasi perempuan berkontribusi terhadap indikator sosial dan partisipasi politik. Kerala memiliki Gender Empowerment Index tertinggi di India, bahkan berada di tingkatan yang lebih baik di antara negara berkembang lainnya.

Keterdidikan perempuan membuka ruang partisipasi ranah publik seperti yang terjadi di Finlandia, sejak tahun 1906, perempuan di sana merupakan yang pertama di Eropa yang memiliki hak dipilih dan memilih. Kini, proporsi perempuan di parlemen melebihi 30 persen dan sekitar 50  persen perempuan menduduki jabatan kabinet. Bahkan sejak tahun 2000, Tarja Halonen terpilih menjadi presiden perempuan pertama. Kemudian, Juha Urpilainen, merupakan menteri keuangan perempuan saat ini yang berlatar belakang guru Sekolah Dasar.

Kita dapat belajar dari Kerala karena capaian literasi masyarakatnya dipandang sebagai fenomena terkini. Kerala memanfaatkan fasilitas kesehatan dalam mendukung perencanaan  keluarga. Tingkat kelahiran di Kerala, terkendali, kematian bayi rendah dan usia harapan hidupnya lebih panjang. Para ibu di sana sangat memahami pentingnya Air Susu Ibu (ASI) ekslusif minimal enam bulan. Penjelasan ini menjawab pertanyaan mengapa di Kerala jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki.

Selain belajar dari Kerala, kita juga bisa belajar dari Finlandia. Walau tingkat emansipasi perempuan di Finlandia tinggi, namun masyarakat Finlandia tetap menjaga hak perempuan sebagai ibu. Cuti melahirkan diberikan selama tiga tahun dan terjamin dapat menjangkau masa menyusui, menyapih, dan mendidik anak sejak dini di rumah. Waktu tersedia begitu luang untuk membacakan dongeng dan bermain besama, fakta bahwa literasi diwariskan secara langsung sejak awal perkembangan anak.

BACA JUGA :
Siapa Calon Presiden 2014?
Kapan Harus Minum Obat Kuat?
Tidak Ada Masalah antara TNI dan POLRI?
Ketika Gelar Doktor Dipertanyakan
Bangau Bluwok Semakin Terancam Punah
Pentingnya Menggali Potensi Anak Sejak Dini
Pesta Demokrasi Untuk Siapa?

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.