Jumat, 08 Maret 2013

Pentingnya Menggali Potensi Anak Sejak Dini

Guru kadang masih mengalami kendala dalam mengarahkan anak didiknya.



Tony Buzan tang telah mengembangkan otak dan pembelajaran dalam buku Head First (2003) mengungkapkan bahwa setiap orang memiliki sepuluh kecerdasan yang belum banyak digali meliputi kecerdasan kreatif, pribadi, sosial, spiritual, jasmani, indrawi, seksual, numerik dan verbal.

Namun, guru kadang masih mengalami kendala dalam mengarahkan anak didiknya berdasarkan tipe atau jenis kecerdasan yang dimiliki, sehingga treatment atau perlakuan atau perlakuan terhadap anak didik dianggap sama rata. Dalam keadaan demikian, pendidik sulit membedakan mana anak yang berpotensi di bidang seni, sains, atau sastra.

Ketika anak mengalami kegagalan dalam satu pelajaran tertentu belum tentu ia gagal dalam bidang lain. Seperti yang dialami seorang anak kecil bersusia tujuh tahun, agak tuli dan divonis bodoh di sekolah. Suatu hari dia pulang dengan secarik kertas dari gurunya untuk ibunya, "Tommy, anak ibu sangat bodoh. Kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah." Sang ibu terhenyak membaca surat itu, namun segera ia membuat tekad yang teguh, "Anak saya, Tommy bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia."

Kita semua mengenal Tommy kecil itu sekarang sebagai Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar di dunia. Dia hanya bersekolah sekitar tiga bulan, namun kondisi fisiknya yang agak tuli ternyata bukan penghalang untuk maju. Guru menilainya terlalu bodoh, menganggap Tommy tak mampu menerima pelajaran apapun. Beruntunglah Tommy kecil mempunyai ibu seperti Nancy, yang juga pernah berprofesi sebagai guru.

Nancy mengajari membaca, menulis dan berhitung. Ternyata Tommy dengan cepat  menyerap semua yang diajarkan oleh ibunya. Tommy kemudian sangat gemar membaca. Siapa yang bisa menyangka bahwa seorang penemu jenius seperti Thomas Alva Edison di masa kecilnya dikenal sebagai bocah agak tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah?

Thomas Alva Edison, sepanjang hidupnya telah mematenkan lebih dari seratus penemuan yang berbeda. Kisahnya, semoga menjadi bahan renungan, sudah sejauh mana kita membantu putra-putri kita berkembang? Atau cukup mengandalkan guru-gurunya di sekolah atau di pusat bimbingan belajar? Sebelum terlambat, kenali segera putra-putri kita, siapa tahu dia adalah ilmuwan jenius berikutnya.

BACA JUGA :
Pesta Demokrasi Untuk Siapa?
Mengapa Calon Gubernur Bank Indonesia Ditolak?
Bagaimana Menjadi Pemimpin Bermoral?
Mengurai Benang Kusut Kasus Bank Century
Wisata Ziarah ke Gunung Sinai
Waspadai Kondisi Rem Kendaraan
Benarkah Partai Politik Mesin Uang?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.