Rabu, 27 Maret 2013

Sawah Apung di Lahan Rawan Banjir

Perlakuan  sawah apung tidak jauh berbeda dengan sawah konvensional.



Menanam padi dengan cara sawah apung merupakan teknologi baru bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir. Selama ini, petani tidak pernah memanfaatkan sawahnya yang terendam banjir. Padahal, banjir bisa terulang terus setiap tahun. Upaya mengatasi masalah tanam padi di musim banjir, telah dikembangkan sawah apung untuk mengatasi kesulitan petani di wilayah Kecamatan Padaherang, Kalipucang dan sekitarnya di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Perlakuan atau pemeliharaan sawah apung tidak jauh berbeda dengan sawah konvensional atau yang di tanam di atas tanah. Perbedaan sawah apung dengan sawah konvensional adalah media tanamnya. Sawah apung ditanam di atas rakit yang diberi sabut kelapa, jerami, serta tanah. Rakit berfungsi agar sawah terapung, sehingga tidak terpengaruh ketinggian banjir. Perbedaan lainnya, saat panen padi tidak dapat dirontokkan di tempat melainkan harus dibawa ke darat.

Sawah apung di Desa Ciganjeng yang diprakarsai oleh Taruna Tani Mekar Bayu bekerja sama dengan Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), ditanami benih padi jenis IR 64 dengan metode tanam model SRI atau ditanam perbiji. Pemeliharaan dilakukan dengan pupuk dan penyemprotan hama secara organik. Panen perdana sawah apung dilakukan tanggal 14 Maret 2013, dengan hasil produksi 6,2 ton dari lahan seluas seratus bata. Percobaan pembuatan sawah apung sudah dimulai sejak 2010.

Hasil produksi sawah apung relatif banyak, dan memiliki keunggulan lain yaitu petani bisa menanam ikan. Namun, masih perlu upaya merubah pola pikir petani dari yang semula menjadi petani konvensional menjadi petani sawah apung dengan mina ikan.  

Photo dan referensi : PR,  27 Maret 2013

2 komentar:

  1. kenapa nggak coba varietas padi rawa ya? padi ini memiliki kemampuan untuk meninggi seiring dengan kenaikan air, namun susahnya ya kalo airnya surut/kering jadi tinggi banget dah (bisa sampe 3 meter kabarnya), kalo batangnya ndak kuat ya roboh..hehehehe

    BalasHapus
  2. Tentu modal awal sangat mahal untuk membuat medianya, barangkali perlu dicoba jenis tanaman lain yang lebih bagus untuk menghasilkan seperti kangkung biji, bayam atau tanaman sayur lain yang memungkinkan tumbuh di media tersebut berumur lebih pendek panennya dan lebih mahal harga jualnya...

    BalasHapus

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.