Saturday, April 20, 2013

Indonesia Harus Diselamatkan!

Pahit sekali mengakui reformasi berada di tubir kegagalan.



Empat tokoh reformasi, Abdurahman Wahid, Amien Rais, Megawati, dan Sultan Hamengku Buwono X melangsungkan pertemuan yang dihadiri Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta di Ciganjur, enam bulan setelah Soeharto dipaksa lengser jabatan. Pertemuan tersebut melahirkan beberapa tuntutan, salah satunya menyelenggarakan pemilu yang luber dan jurdil untuk mengakhiri pemerintahan transisi.

Dua tokoh reformasi, Gusdur dan Megawati, secara berturut-turut terpilih menjadi presiden. Keduanya, ternyata gagal memenuhi salah satu butir kesepakatan yang mereka buat yaitu mengusut pelaku KKN yang dilakukan oleh Soeharto dan kroninya. Hal ini cukup menjadi bukti bahwa amanat reformasi sangat sulit untuk dilaksanakan.

Kegagalan mengusut KKN oleh Gusdur dan Megawati, memberikan dampak sangat besar, para pelaku KKN jadi tahu persis bahwa jejak-jejak yang mereka lakukan akan tetap sulit dilacak. Penyebabnya, jerat hukum yang masih mungkin dimanipulasi dan sikap para penegak hukum yang selalu terbuka terhadap ajakan kompromi.

Sampai kapan kelemahan-kelemahan infrastruktur kenegaraan ini akan terus berlangsung? Presiden Sulilo Bambang Yudhoyono sudah menjalani jabatan kepresidenan selama dua periode, namun ternyata untuk melakukan pembenahan sehingga struktur pemerintahan menjadi lebih kuat dan konsisten sesuai amanat reformasi sepertinya perlu tambahan waktu. Sebenarnya bukan hanya presiden yang harus menanggung beban kegagalan reformasi, parlemen yang melahirkan payung hukum yang implementasi pelaksanaannya bisa simpang siur pun ikut memikul dosa yang sama beratnya. 

Sikap pemerintah dan parlemen yang tidak bertanggungjawab harus segera diakhiri. Seperti menghadapi ujian nasional yang jelas-jelas gagal, pemerintah seharusnya tidak menambah gelisah rakyat dengan melempar isu akan naiknya harga BBM bersubsidi awal bulan depan. Mana jati diri pemerintah yang mengaku mengemban amanat reformasi bila masih bergaya khas Orde Baru?

Pahit sekali mengakui reformasi berada di tubir kegagalan. Lima belas tahun adalah masa yang cukup panjang, melelahkan, dan menjemukan bagi rakyat untuk menyaksikan akrobatik pengalih perhatian. Belajar dari kegagalan melaksanakan amanat reformasi, Indonesia harus diselamatkan!


2 comments:

  1. Saya diajarkan oleh agama yang saya anut, semua berawal dari niat, bila hasil yang terlihat dan dirasakan saat ini sangat mnyedihkan

    MUNGKINKAH INI AZAB DARI SEBUAH NIAT YANG SALAH?
    (mohon silahkan jabarkan sendiri.)

    saya sangat awam dalam memahami fenomna kehidupan politik, tapi saya kebetulan berada di ujung tombak dalam berkehidupan ber Negara sebagai guru/pendidik dan pengajar disalah salah sekolah juga merasakan Dampak yang timbul dari ambisi orang orang politikus yang tdk sedikit menjual ayat ayat Agama untuk kepentingan pribadi dan golongan.

    salah satu yang sangat merisaukan saya saat awal awal terjadinya REFORMASI, tidak sedikit anak anak didik saya mencoba membuat onar dengan melakukan demontrasi demomtrasi yang mengarah kepada anakis, ini yang membuat saya sedih, anak anak yang seharusnya pada saat usianya begitu tidak tersentuh kehidupan anakies, seharusnya belajar dengan tenang dan damai dalam mmbentuk olah pikir dan karakternya, telah ternoda oleh hasil sebuah kata REFORMASI.

    pada saat saya diberi kesempatan sebagai Pembina Upacara hari senen, saya mencoba memberi gambaran MAKNA dari kata REFORMASI, dengan harapan agar anak anak tidak rancu dan ikutan melakukan hal hal anarkis yang lebih parah

    Menurut saya REFORMASI bisa kita pilah jadi dua buah suku kata

    1. RE = artinya kembali
    2. FORMASI = susunan , struktur dalam suatu system

    bila semua elemen menyadari dan berpegang teguh pada FORMASI yang diamanahkan dengan satu tujuan yang sama, kalau dalam kehidupan bernegara, bagaimana Bangsa dan Negara ini bisa Bangkit dari keterpurukan dan BANGKIT HARGA DIRINYA, tentunya masing masing elemen / struktur dimulai dari Presiden, DPR sampai Guru pun tetap berpegang teguh pada FORMASI dan berusaha melakukan terbaik pada tujuan yg sama seperti diatas, saya yakin kesedihan yang Bapak Paparkan tidak akan pernah terjadi.

    yang membuat amburadul dan kacaunya system ini karena masing masing FORMASI telah keluar jalur dan niat pada satu tujuan, hanya disibukkan mengurusi FORMASI diluar FORMASI kita, sehingga system menjadi lemah, akibatnya jangan pernah bersedih, NEGARA TERCINTA ini di porak porandakan oleh fihak luar dengan segala Triknya, KARENA APA formasi kita menjadi lemah,

    KESANNYA MEMANG TIDAK ADIL, ALANGKAH ENAKNYA SEBAGAI PEMIMPIN, kalau semua komponen sadar pada FORMASI nya, tapi saya sebagai seorang Muslim diajarkan semua adalah pemimpin pada saatnya kelak diminta pertanggung jawaban.

    SANGGUBKAH KITA MEMPERTANGUNG JAWABKAN YANG LEBIH BESAR, SEMENTARA AMANAH SAYA SEBAGAI GURU SAJA LUAR BIASANYA BERAT?

    Wallahu Alam Bissawab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih pada Ki agus Najamudin @ Dunianya Pak Guru, benar Pak.... anak-anak kita terlanjur salah memaknai reformasi, dalam alam bawah sadar mereka reformasi adalah euforia demokrasi yang kebablasan.

      Coba renungkan juga Perjuangan Kartini di Era Liberalisme, seperti itulah yang dihadapi generasi muda kita. Sangat berat memang. Tapi, yakinlah... bersama kita bisa.

      Terimakasih telah singgah dan berbagi,

      Salam hangat dari meja redaksi WPC di Puri Sunyi.

      Delete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.