Sunday, April 21, 2013

Perjuangan Kartini di Era Liberalisme

Semangat Kartini menjadi pendorong kaum wanita memperjuangkan haknya.



RA Kartini lahir di era penjajahan (imperialisme), namun ia tidaklah tenggelam karena tekanan penjajahan. Justru ia bangkit, berjuang melawan penjajahan dengan cita-cita dan tujuan mulia untuk memperjuangkan kemajuan bangsanya melalui pendidikan. Juga memberontak terhadap sistem adat yang tidak berpihak pada kaum perempuan.

Sejarah perjuangan RA Kartini tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan dan revolusi Kemerdekaan Indonesia yang mencapai puncaknya pada tanggal 17 Agustus 1945. Semangat Kartini kemudian menjadi pembangkit dan pendorong lahirnya Kartini-Kartini di era pasca kemerdekaan, dalam era liberalisme modern.

Menurut Deliar Noer, pakar politik, liberalisme adalah paham yang tumbuh di Eropa Barat sesudah masa Abad Tengah. Abad penuh dengan kungkungan yang melahirkan faham liberalisme karena orang-orang menghendaki kebebasan. 

Faham liberalisme melihat manusia bebas mengembangkan diri menuju kesempurnaan, dan memberi kesempatan untuk turut berkiprah. Hal ini menempatkan setiap tindakan pemerintah yang membatasi manusia dianggap menghambat perkembangan. Dalam bidang moral, agama, intelektual, ekonomi, sosial, dan politik bersamaan dengan pembatasan kekuasaan pemerintah, masyarakat membentuk partai-partai yang berfungsi menjaga supaya pembatasan oleh pemerintah itu tetap terjamin. Sementara dalam bidang ekonomi, liberalisme melahirkan kapitalisme.

Liberalisme yang melahirkan imperialisme dan kapitalisme mengalami keruntuhan setelah bangsa-bangsa terjajah berhasil memerdekakan dirinya, termasuk Indonesia. Kemudian liberalisme, imperalisme dan kapitalisme bermetamorfose menjadi neoliberalisme, nekapitalisme dan neoimpereialisme dengan sifat dasar yang tidak berubah menuntut kebebasan moral, agama, ekonomi dan politik, bahkan berkembang menjadi kebebasan tak terbatas (ultrakebebasan).

Ultrakebebasan moral, agama, dan sosial adalah tantangan maha dahsyat yang harus dihadapi Kartini-Kartini di era liberalisme atau neoliberalisme. Martabat individu, masyarakat dan bangsa terpuruk karena ultra kebebasan moral yang tidak mengindahkan lagi agama. Atas nama Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai pembenaran, tuntutan moral yang bertentangan dengan agama seperti homoskesual, lesbian, seks bebas, penyebaran pornografi, premanisme, korupsi, kolusi, dan nepotisme dikedepankan.  

Sering HAM berhadapan dengan agama dalam soal perempuan. Namun, tantangan terdahsyat yang langsung menerpa mereka adalah dekadensi moral, akhlak, dan runtuhnya tata kehidupan sosial sampai ke sendi-sendinya. Bisakah Kartini di era liberalisme membukukan lagi habis gelap terbitlah terang jilid lain? Sepertinya kita memang masih harus menunggu lahirnya Kartini-Kartini baru yang siap menjadi pelopor pejuang masyarakat, bangsa dan negara dari ancaman dekadensi moral.

ilustrasi gambar dari jamal-alfath.blogspot.com

BACA JUGA :
Indonesia Harus Diselamatkan!
Diskriminasi Dua Harga BBMMengapa Harus 20 Paket UN?Kemana Fungsi Sosial Rumah Sakit?Menghemat Biaya Perawatan Kesehatan
Ujian Nasional Bukan Teror?
Mengenal Olah Raga Fitnes
Siapa Penentu Kualitas Presiden?

1 comment:

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.