Monday, April 1, 2013

Beda Kesalahan dan Kejahatan Jabatan

Krisis perubahan, harus direspon dengan keputusan benar atau salah.



Karena perubahan situasi yang demikian cepat, kadang menempatkan seorang pemimpin dalam situasi yang dilematis. Setiap keputusan selalu mengandung risiko bagi sebuah jabatan publik yang diemban seseorang.

Lord Erlington mengatakan, pemimpin yang tidak melakukan kesalahan adalah pemimpin yang tidak melakukan apa-apa. Maka di era perubahan seperti sekarang ini sangat mudah ditemui pemimpin birokrasi yang tidak melakukan apa-apa.

Dewasa ini banyak ditemukan kecenderungan pejabat bersikap cari aman dan enggan melakukan terobosan-terobosan karena menyadari hal ini memiliki risiko tinggi. Risiko yang menjadikan posisi tidak aman, jabatan menjadi relatif singkat dan mungkin penghasilan dari TPP (tunjangan penghasilan pejabat) juga sirna. 

Apakah diamnya para pejabat itu karena pengawasan super ketat jaksa dan KPK? Fakta, serapan dana APBD rendah, pengerjaan proyek-proyek dipilih yang gampang-gampang saja dan bersifat rutin. Nyaris tidak ditemukan adanya terobosan penghancuran belenggu-belenggu dan kekuasaan-kekuasaan. Memang tidak jarang, mereka yang melakukan terobosan harus menerima risiko seperti dipecat, diganti, atau diadili.

Krisis perubahan, harus direspon dengan keputusan benar atau salah. Perubahan yang tidak direspon, bisa saja berisiko mati. Namun, menghadapi perubahan dengan sebuah keputusan pun bisa berisiko mati juga. Maka, tindakan pemimpin yang mau menghadapi perubahan dengan sebuah keputusan berarti siap menanggung kesalahan. 

Kesalahan bukanlah sebuah kejahatan. Herbert Simon, ahli ekonomi-politik, penerima hadiah Nobel Ekonomi tahun 1978, mengatakan "Percuma mengadili keputusan yang sudah diambil. Apalagi bila digunakan rasionalitas, karena dalam setiap pengambilan keputusan strategis setiap pemimpin selalu ditengarai oleh suasana keterbatasan.

Vonis sebuah hukuman memiliki beragam motif, antara menimbulkan efek jera atau memberi rasa keadilan. Bahkan ada vonis yang sekedar memenuhi aspek-aspek legalistik-formal atau muatan politik. Lalu, apakah penuhnya penjara saat ini dipenuhi penjahat negara atau sekedar salah tangkap karena lebih sering menangkap orang yang bersalah?

Elite politik dan penegak hukum, seharusnya dapat membedakan antara kesalahan dan kejahatan. Kalau semua pemimpin yang salah mengambil keputusan diidentikkan dengan penjahat, maka semua pemimpin akan cari aman saja dan mimpi Indonesia menjadi negara dengan bangsa yang besar akan tetap tinggal mimpi.

Banyak terobosan yang dapat dilakukan para pemimpin untuk membawa kemajuan atas bangsa ini. Kami menanti bukti janji-janjimu wahai pemimpin. Jangan takut berbuat salah!

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.