Saturday, April 13, 2013

Siapa Penentu Kualitas Presiden?

Rakyat berharap presiden terpilih nanti akan mampu membawa perubahan.




Para pemilih yang cenderung tidak menggunakan hak pilihnya sebagaimana pada Pilpres terdahulu yang mencapai kisaran 20-30 persen ternyata berdampak pada kualitas kepemimpinan bangsa ini. Pertanyaanya sangat sederhana, bagaimana agar pemilih dengan antusias berbondong-bondong datang ke bilik suara untuk memilih presiden pada Pemilihan Umum 2014?

Meski masyarakat menghendaki adanya revisi Undang-Undang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Nomor 42 Tahun 2008 oleh pemerintah dan parlemen, agar ada perubahan substansi sehingga para calon presiden yang berada di luar parpol dapat diakomodasi hak politiknya, namun parpol lebih cenderung mengajukan ketua umumnya sebagai calon presiden. Sikap parpol yang seperti ini terbukti berimplikasi sangat luas, para pemilih cenderung tidak menggunakan hak pilihnya.

Rakyat selama ini telah menunjukkan sikap kritisnya dengan sangat jelas. Mereka memilih tidak menggunakan hak politiknya daripada harus tunduk pada sikap manipulatif yang diperagakan dengan terang-terangan. Rakyat menolak sikap parpol yang hanya ingin menempatkan pimpinannya sebagai pemegang kekuasaan politik utama di negeri ini. Sayangnya, sikap rakyat seperti ini belum mampu menggugah para politisi untuk merubah paradigma wawasannya tentang masalah-masalah kenegaraan.

Salah satu alternatif kebutuhan politik yang harus segera dipenuhi saat ini oleh parpol adalah konvensi dalam menentukan calon presiden yang mereka dukung. Konvensi ini bisa jadi memaksa parpol harus siap menghadapi kenyataan bahwa ketua umum parpol mereka tidak akan terpilih dalam konvensi. Padahal beberapa parpol sudah sejak jauh-jauh hari menetapkan ketua umumnya sebagai capres dalam Pemilu 2014.  Bahkan beberapa parpol telah begitu yakin akan elektabilitas calonnya dan cenderung mengabaikan aspirasi rakyat.

Rakyat berharap presiden terpilih nanti akan mampu membawa perubahan yang signifikan, agar bangsa dan negara ini meraih martabat serta mampu untuk berdiri sejajar dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Mungkinkah hal ini akan terjadi ketika pada Pemilu 2014 rakyat tetap memilih tidak menggunakan hak-hak politiknya?


Sumber gambar : www.unand.ac.id

BACA JUGA :
Boediono Terlibat Century?
AkunTwitter Milik Presiden SBY
Jabatan Rangkap Presiden Melanggar Etika Politik?
Pilkada Langsung Mencederai Demokrasi?
Penyebab Pengajaran PKn Diacuhkan Siswa
Beda Kesalahan dan Kejahatan Jabatan

2 comments:

  1. Jika konvensi hanya melibatkan elit-elit parpol itu sendiri tanpa melibatkan masyarakat, maka kualitas presiden yang akan datang hanyalah isapan jempol belaka sebab konvensi hanya menjadi ajang bagi-bagi kue kekuasaan

    ReplyDelete
  2. penentu kualitas presiden tentu rakyat, tapi ini membutuhkan dukungan informasi yang memadai tentang satu atau lebih calon. Tanpa dukungan informasi, tentu sulit bagi rakyat untuk menentukan dukungannya

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.