Thursday, April 18, 2013

Mengapa Harus 20 Paket UN?

UN dengan butir soal yang berbeda berpotensi menimbulkan ketidak adilan.



Sejarah pendidikan nasional menambahkan catatan baru, Ujian Nasional (UN) di sebelas provinsi ditunda. Mengapa UN yang menyangkut nasib jutaan siswa yang tersebar pada ribuan SMA, MA, dan SMK harus ditunda? Muhamamad Nuh, Menteri Pendidikan, menyatakan penundaan itu terpaksa dilakukan karena adanya masalah teknis yang tidak dapat diatasi. 

Pada 2013 ini, Kemendikbud menggunakan 20 paket soal sehingga peserta UN tidak dapat bekerja sama.  Meski tidak dengan antisipasi yang baik untuk mengatasi kerusakan soal dan LJK, karena setiap paket naskah soal dan LJK memiliki kode pengaman (barcode), upaya ini mampu meningkatkan keamanan menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya.

Kebijakan diberlakukannya 20 paket soal pada UN tahun ini, menuntut profesionalisme percetakan untuk dapat menyajikan soal UN secara tepat sasaran dan tepat waktu. Karena ada percetakan yang tidak memiliki profesionalisme memadai, maka gagal menyajikan soal secara tepat sasaran dan tepat waktu. Hal ini mengakibatkan penundaan UN di sebelas provinsi terpaksa dilakukan.

Pengembangan 20 paket UN yang membawa korban penundaan ujian di sebelas provinsi menunjukkan disangsikannya kejujuran sekolah (siswa, guru, dan penyelenggara ujian). Benarkah kepala sekolah, guru, dan siswa tidak dapat dipercaya untuk berbuat jujur pada pelaksanaan UN?

Kalau dapat dipercaya, semestinya tidak perlu diselenggarakan UN dengan 20 paket soal. Sementara Teori Evaluasi Pendidikan menyatakan, UN yang baik dan ideal adalah UN dengan satu paket soal. 

UN dengan butir soal yang berbeda berpotensi menimbulkan ketidak adilan. Peserta yang mengerjakan soal mudah di bagian awal lebih untung daripada peserta yang mengerjakan soal sulit di awal. Peserta yang mendapat soal sulit di awal, energinya habis di awal sehingga untuk mengerjakan soal bagian tengah dan akhir sudah kehabisan daya konsentrasi.

Bisakah peningkatan dan pemerataan kualitas pendidikan ditempuh dengan implementasi UN dengan satu paket soal? Satu jenis soal saja untuk peserta UN seluruh Indonesia pada satuan pendidikan yang sama dan sederajat. Sehingga tidak terjadi lagi kesemrawutan karena keterlambatan pencetakan, keterlambatan distribusi, kualitas LJK, kesalahan barcode dan lain-lain.

Sumber gambar : nasional.news.viva.co.id

BACA JUGA :
Kemana Fungsi Sosial Rumah Sakit?
Menghemat Biaya Perawatan Kesehatan
Ujian Nasional Bukan Teror?
Siapa Penentu Kualitas Presiden?
AkunTwitter Milik Presiden SBY
Margaret Thatcher, Penemu Es Krim Lembut
Menghitung Titik Impas Biaya Pembuatan Perda
Anak Jalanan Tanggung Jawab Siapa?

3 comments:

  1. Seharusnya masalah tekhnis itu tidak ada. Karena UN bukanlah semata-mata ajang ujian sepeti uas. Tapi namanya juga manusia sih,di acara sebesar apapun masalah pasti selalu ada.

    Artikel ini sangat bermanfaat,lalu bolehkan saya posting ulang di blog saya ? Terima kasih.

    ReplyDelete
  2. ya memang harus begitu, tapi begitu juga lah sifat bangsa ini.. Tidak amanah..

    ReplyDelete
  3. @Aep Saepudin, silahkan di share.... semmoga bermanfaat.

    @Anonim, betapa susah menjaga sebuah amanah... dari hal ini kita akan belajar untuk lebih baik lagi.

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.