Saturday, April 27, 2013

Ada Apa di Pasar Politik Indonesia?

Politik bergerak liar menuju pragmatisme dan cenderung hedonisme.



Gerakan reformasi yang digelorakan mahasiswa tahun 1997-1998, meski bertolak dari idealisme, menyebabkan politik bergerak liar menuju pragmatisme dan cenderung hedonisme. Kepentingan antarpribadi dan antarkelompok menjadi lebih dominan dibandingkan idealisme dan religiusitas.

Berubahnya panggung politik menjadi pasar politik karena terjadi transaksi politik dengan tukar menukar kepentingan dimana idealisme dan religiusitas menjadi komoditas yang paling diminati. Partai politik, merekrut dan memilih, memproses secara administratif, kemudian menata dalam etalase daftar calon sementara (DCS) anggota legislatif sebelum diajukan ke Komisi Pemilihan Umum atau Daerah (KPU/KPUD). Ibarat toko yang belum buka dan sedang melakukan stock opname, susunan barang bisa berubah sampai saat toko dibuka. Demikian halnya dengan susunan DCS, bisa berubah sewaktu-waktu sampai diumumkannya daftar calon tetap (DCT).

Pasar politik 2014 belum resmi dibuka, namun gerilya pedagang politik sudah terasa geliatnya. Berbagai musibah seperti banjir, tanah longsor, gunung meletus, dan sebagainya bisa berubah menjadi pasar kaget untuk bertransaksi spontan dengan melakukan bakti sosial. 

Sifat politik transaksional dan pragmatis menghapus nilai idealisme dan religiusitasnya. Rakyat kehilangan esensi nyata politik berupa keadilan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Politik menjadi kepentingan individu dan kelompok, bukan untuk kepentingan bangsa dan negara, apalagi sebagai ekspresi pengadian kepada Tuhan. 

Demi memenangi kepentingan politik, dalam banyak kasus, politikus yang kalah mengambil langkah mati satu mati semua, kalau dirinya kalah, pemenang pun harus kalah. Langkah konstitusional seperti mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi sering ditempuh, selain juga jalan inkonstitusional yang dilakukan dengan kebrutalan seperti pengerahan dan amuk masa, membakar gedung KPU/KPUD atau kantor yang ditempati pemenang.

Munurut Idrus Affandi, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pendidikan Indonesia, Pemilu 2014 akan menjadi puncak praktik politik pragmatisme. Rakyat akan semakin jenuh dengan praktik politik transaksional yang mengubah politik menjadi semacam bualan dan ingkar janji serta saling jegal dengan konflik. Meski nilai baik dalam politik masih ada, namun tak mudah mencarinya. Padahal politik merupakan masalah penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Politik sebagai kunci dari segala macam persoalan bangsa dan negara, dilakukan dengan tetap berkomitmen kepada politik.

BACA JUGA :
Siapa Gubernur Pilihan Presiden?
Mengenal Konsep Geopark
Bagaimana Merekrut Caleg yang Baik?
Alasan Gubernur Diangkat Oleh Presiden
Perjuangan Kartini di Era Liberalisme
Indonesia Harus Diselamatkan!
Kemana Fungsi Sosial Rumah Sakit?
Menghemat Biaya Perawatan Kesehatan

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.