Saturday, April 6, 2013

Sanksi Komite Etik Ketika KPK Ceroboh?

Komite Etik hanya memberikan sanksi yang bersifat administratif.



Hasil kerja Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) telah memutuskan bahwa pelaku utama pembocoran dokumen surat perintah penyidikan (sprindik) kasus Anas Urbaningrum adalah Wiwin Suwandi,  sekretaris dari terperiksa 1 Abraham Samad. Abraham Samad dinilai lalai dalam mengontrol staf bawahannya sehingga, dianggap melanggar kode etik dengan terbukti melakukan pelanggaran tingkat sedang.

Komite Etik telah memaparkan secara lugas, tegas dan transparan. Namun, ending process dari Komite Etik berakhir antiklimaks dengan sanksi bagi pimpinan KPK terperiksa 1 dan 2 tidak tegas, mengingat secara nyata mereka sah dan meyakinkan sudah melakukan pelanggaran etika.

Banyak kritik dialamatkan untuk Abraham Samad dan Komite Etik, karena Abraham Samad tidak bersedia memberikan BB-nya untuk dilihat data komunikasi yang dia lakukan secara tertulis ataupun lisan (clonning), yang kemungkinan berkaitan langsung dengan perihal pokok masalah yang akan ditemukan oleh Komite Etik. Komite Etik sebenarnya perlu memeriksa BackBerry Abraham Samad untuk mengetahui percakapan dirinya dengan pihak eksternal setelah kebocoran sprindik, sebab sekretarisnya yang bernama Wiwin Suwandi merupakan pelaku utama.

Komite Etik hanya memberikan sanksi yang bersifat administratif karena Komite Etik dari sisi manajemen dan gaya kerja dibatasi aturan. Berdasarkan peraturan yang berlaku tentang pemberhentian pimpinan KPK, hanya ada dua hal yang bisa menyebabkannya. Pertama pengunduran diri dan kedua melakukan tindak pidana atau terdakwa terbukti bersalah dengan vonis pengadilan.

Mencuatnya kasus kebocoran sprindik, awalnya adalah sebuah kecerobohan dan lama-kelamaan dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan dan pembenaran yang biasa dilakukan. Bisa jadi pada akhirnya, hal ini akan menggoyahkan dan melemahkan KPK secara kelembagaan.

Didi Irawadi Syamsudin, anggota DPR, mengatakan bahwa yang paling takut KPK menjadi solid dan kuat tidak lain adalah orang-orang yang berpotensi bermasalah. "Mereka akan terus berupaya menjadi penumpang gelap di balik berbagai kekisruhan KPK," kata Didi.




No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.