Sunday, April 28, 2013

Bagaimana Tradisi Politik Kita?

Partai politik, untuk kali yang ke sekian hanya menampilkan upaya merebut kekuasaan.



Setelah Pemilu 2014 nanti, masihkah kita optimis memandang masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara sambil menghibur diri bahwa carut-marut politik kita masih dalam koridor transisi demokrasi? Padahal, masa transisi ini sudah lebih dari satu dekade jika dihitung dari awal reformasi pada 1998. 

Beragam anomali yang terjadi dalam praktik politik termutakhir kita, kian memudarkan optimisme terjadinya isnstitusionalisasi demokrasi. Anomali akibat liberalisasi politik dewasa ini membuat demokrasi bermakna kontraproduktif.

Sejumlah pengamat politik menilai komposisi calon anggota dewan sekarang tidak lebih baik dibandingkan dengan periode pascareformasi sebelumnya. Bahkan lebih parah, karena menempuh cara-cara instan dan ingin menjadi pilihan utama partai politik seperti pada proses pendaftaran calon anggota legislatif DPR periode 2014-2019.

Toto Sugiarto, Peneliti senior Soegeng Sarjadi Syndicate, menegaskan jika sebelumnya partai politik membuat daftar calon legislatif dari kontribusi terhadap kepentingan publik, sekarang justru sekedar menekankan pada aspek popularitas semata. Kaderisasi dan rekrutmen politik berkualitas sama sekali tidak berlangsung. Sebanyak 98 persen calon anggota DPR periode mendatang adalah muka-muka lama sehinga harapan terjadinya perubahan kinerja legislatif, ibarat menggantang asap. (PR, 24 April 2013).

Hak politik telah memungkinkan semua warga negara untuk beraktivitas dalam ranah politik. Namun tidak berarti hal ini menjadi daya tawar atas kepanikan partai politik karena kegagalan kaderisasi dan rekrutmen berkualitas dengan melakukan pencomotan kalangan selebritas atau artis dan muka lama. 

Andai mesin partai politik kita mampu menjalankan peran, fungsi dan kedudukan yang semestinya, tidak akan muncul kekurangpercayaan diri para politisi dan pengurus parpol dalam menjual program kerja kepada masyarakat serta melemahnya harga tawar ideologi di masyarakat. 

Partai politik, untuk kali yang ke sekian hanya menampilkan upaya merebut kekuasaan. Hal-hal substansi seperti mindset untuk mengubah kinerja parlemen sesuai hakikat kehadirannya, nyaris tidak disentuh. Ini adalah bukti kegagalan kaderisasi dan rekutmen partai politik. Atau memang begini tradisi politik di Indonesia?

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.