Monday, April 15, 2013

Ujian Nasional Bukan Teror?

Tradisi membuat teror dalam UN adalah peristiwa dunia yang langka.




Ujian Nasional (UN) di Indonesia, selalu menjadi teror yang menakutkan bagi siswa dan orang tua. Sejak jauh hari, dari pagi hingga petang anak sekolah dipaksa menjalankan ritus guru dan sekolah berupa latihan-latihan dengan pengawasan militeristik. 

Menjelang UN, di beberapa sekolah dan lingkungan anak didik, diselenggarakan pula ritus khusus mulai dari   gelaran pengajian majelis taklim hingga belajar tambahan dengan sistem kebut semalam. Tujuannya, agar siswa lulus dengan sempurna. 

Perilaku seperti itu telah menciptakan teror  baru bagi siswa dan orang tua. Teror UN akan terus terjadi sepanjang terdapat ketakutan dan perasaan tertekan sejak siswa keluar rumah orang tuanya. Siswa dan orang tua tiba-tiba seperti teroris yang gerak-geriknya tak lepas dari pengawasan para polisi, Satpol PP, dan petugas Dinas DLLAJR. 

Pengamanan UN sendiri dimulai sejak utusan Dinas Pendidikan seluruh Indonesia mengambil berkas soal ujian, hingga masa kurir berkas jawaban UN. Anggaran pengamanan dengan menggerakkan polisi dan aparat keamanan lokal ini, setiap tahun Dinas Pendidikan seluruh Indonesia harus mengeluarkan anggaran Rp 2 miliar pertahun. 

Perlakuan terhadap siswa peserta UN sangat memprihatinkan, seolah-olah mereka adalah sosok yang harus diawasi secara berlebiha dengan model keamanan yang overacting. Menurut Sartono Mukadis, pakar psikologi perkembangan UI, pemberlakuan sistem, model dan gaya pengamanan dan penyelenggaraan dan penyebarluasan ritus-ritus menjelang UN seperti selama ini terjadi, langsung atau tidak, justru merusak sistem nilai-nilai pendidikan yang asasi.

Tradisi membuat teror dalam UN adalah peristiwa dunia yang langka, unik dan menggelikan yang hanya ada di Indonesia. Di negara maju seperti Jepang, ujian nasional diperlakukan sebagai ujian biasa, sebagai proses peningkatan mutu pembelajaran sekaligus menguji level kompetensi anak didik sekaligus mengukur sejauh mana guru dan sekolah mencapai level kompetensi pembelajaran sesuai standar nasional. Pemerintah Jepang meyakini bahwa ujian nasional tidak akan mengubah apa pun untuk kemajuan peradaban, karena yang memajukan bangsa dan mencerdaskan generasi anak Jepang justru lingkungan pendidikan yang kreatif tanpa teror! (Toru Fukuda, Nation Test for Development, 2009:232).

Pelaksanaan Ujian Nasional di Jepang, sejak tahun 1990-an sudah online atau menggunakan teknologi informasi sebagai media. Cara seperti ini selain menghemat lebih dari 50 persen anggaran negara, juga tidak menciptakan teror yang justru mengganggu keamanan dan kesiapan siswa. Model ujian seperti ini mirip model ujian TOEFL atau TOEIC yang sudah diterapkan di lembaga pendidikan negara maju seperti Amerika dan Eropa dengan model e-paper computer based test. 

Kapan UN kita akan menempuh cara yang mencerahkan, hemat dan antiteror? Atau memang UN di Indonesia dirancang untuk meneror tidak hanya orang tua dan siswa namun juga anggaran? Riset LSM Fitra (2012) menyebutkan bahwa dana UN selama ini justru banyak dimanfaatkan untuk dan atas nama proyek UN, dan bukan seperti tujuan awal sebagai media pemetaan kompetensi siswa. Jumlah nilai proyek dalam proses pengadaan soal dan sarana tahun 2013 tertera dalam APBN hingga Rp 120.457.939.603 (lebih dari 120 miliar).

Referensi : "Teror" Ujian Nasional, Tasroh, PR 15 April 2013 (Dosen, Alumnus Ritsumeikan Asia Pasific University, Jepang)

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.