Saturday, May 11, 2013

Perlu Dicari, Pendorong Timbulnya Aksi Terorisme

Tim Densus 88 Polri berkali-kali melakukan penyergapan di Jawa Barat.



Akar jaringan terorisme biasanya lahir dari konflik yang berlarut-larut, terputusnya dialog serta rangkaian penindasan yang berlangsung dalam kurun waktu lama. Pendorong timbulnya jaringan terorisme semestinya dapat segera ditemukan sehingga kekerasan, dari berbagai pihak, dapat segera dihentikan.

Menumpas terorisme bukan pekerjaan mudah karena akarnya adalah fanatisme terhadap suatu keyakinan. Fenomena baru munculnya terorisme di tanah air, sebagaimana berbagai pernyataan pemerintah selalu dikaitkan dengan Islam. Bahkan, jaringannya dikaitkan dengan jaringan terorisme internasional.

Tim anti teror Polri telah berkali-kali melakukan penyergapan dan berhasil merampas senjata serta amunisinya dalam jumlah cukup banyak. Setelah sekian lama orang yang ditangkap juga cukup banyak, mengapa jaringan terorisme seperti tidak bisa ditumpas sampai ke akarnya? Masyarakat pernah menyangka penyebabnya karena tokoh utama jaringan terorisme, sekaliber Nurdin M Top, masih belum tertangkap. Namun, perkiraan ini terbantahkan, meskipun Nurdin telah mati, terbukti jaringan terorisme tidak ikut mati.

Tim Densus 88 Polri telah berkali-kali melakukan penyergapan di Jawa Barat, termasuk Bandung dan Cimahi. Terakhir penggerebegan rumah di Cigondewah (Rabu, 8 Mei 2013), seorang teroris berhasil ditangkap dan tiga lainnya tewas setelah baku tembak selama beberapa jam antara Tim Densus 88 dan teroris. Selain di Kabupaten Bandung, penyergapan juga dilakukan serentak di Jawa Tengah (Kebumen, Batang), Banten (Tangerang Selatan), dan Kota Bandung (Kiara Condong).

Di Jawa Barat, tidak ada konflik berkepanjangan meski selama belasan tahun keamanannya pernah terganggu karena munculnya DI/TII. Setelah melakukan pemberontakan, mereka menyatu dengan masyarakat Jawa Barat yang berfilosofi silih asah, silih asih, silih asuh. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Barat tidak memiliki tradisi memelihara konflik. Namun, mengapa jaringan terorisme justru kini dapat tumbuh dan hidup berkepanjangan di masyarakat Jawa Barat?

Ini pekerjaan rumah kita bersama, untuk menemukan apakah secara substansial sikap dan pandangan hidup masyarakat Jawa Barat telah berubah secara radikal?  Bagaimana menepis anggapan, bahwa Jawa Barat salah satu basis teroris di tanah air?


Ilustrasi : m.okezone.com

3 comments:

  1. Krn Jabar kena kutuk Prabu Siliwangi.

    ReplyDelete
  2. keterbelakangan, ketidakadilan, kemiskinan dan pembiaran adalah pemupuk yg signifikan tumbuhnya bibit2 keras dan ekstreem...orang2yg tdk merasakan manfaat aanya negara dan pemerintah juga turut memicu...juga sikap dan sifat masyarakat yg mas bodoh acuh tak acuh thd lingkungan...

    ReplyDelete
  3. yang tidak kalah penting dan patut di pehatikan adalah penerapan pendidikan agama yang keras tidak seimbang dengan pengetahuan sosialisasi kemasyarakatan

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.