Thursday, May 16, 2013

Pelayan Publik, Menjadi Pekerjaan Menggiurkan

Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa negara wajib melayani setiap warga negara.



Gemuruh kontestasi politik menjelang perhelatan Pemilu 2014 ataupun pemilukada di tingkat lokal menyodorkan potret kehidupan yang menggelikan. Terlihat kontestan yang memaksakan diri, yang lain nampak kemaruk mencalonkan diri tidak hanya di kursi legislatif tapi juga eksekutif sekaligus. Ada yang sekeluarga mencalonkan diri, ada yang bertukar posisi pencalonan dan bentuk lain yang lebih mengesankan sikap pragmatisme dan asal berkuasa.

Andai semua pihak menyadari betapa berat tanggung jawab aparatur pemerintahan serta politisi yang duduk di parlemen, antusiasme yang meledak-ledak seperti itu tidak perlu terjadi. Karena tidak mudah dan bukan alakadarnya saja untuk menempati posisi kepala daerah atau legislator di semua tingkatan. Menjadi pemimpin pada hakikatnya adalah menjadi pelayan publik dalam arti sebenarnya.

Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa negara wajib melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Representasi negara dalam konteks ini adalah aparatur pemerintahan dalam semua tingkatan yang diawasi oleh parlemen. 

Kalau semua menyadari kewajiban hakiki serta pertanggungjawabannya dalam dimensi keilahian, mungkin perburuan kekuasaan akan sepi dari persaingan seperti sekarang ini. Banyak kalangan yang berbondong-bondong berburu kekuasaan hanya untuk kepentingan dirinya dan keluarga, atau paling jauh untuk kepentingan golongan. 

Lumpuhnya infrastruktur di berbagai pelosok, seperti jembatan ambruk dan jalan berubah menjadi kubangan di musim hujan adalah bukti bahwa publik selama ini belum mendapat layanan. Atau memang publik telah salah memilih pelayan? Lalu sampai kapan ratusan siswa madrasah sanawiyah di Kabupaten Cianjur harus bertaruh nyawa agar bisa sampai ke sekolah dan pulang ke rumah setelah menuntut ilmu karena jembatan gantung Cisokan lapuk dimakan usia? Atau sampai kapan anak-anak di Kabupaten Garut  tidak usah berbasah-basah menyusuri pinggiran sungai karena jembatan Ciogong yang ambruk tidak kunjung diperbaiki?


No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.